Dead by Daylight is an asymmetrical multiplayer (4vs1) horror game where one player takes on the role of the savage Killer, and the other four players play as Survivors, trying to escape the Killer and avoid being caught and killed.
Hey, it's me again! 

Dulu gue takut banget sama yang namanya game-game jump scare horror. Setelah seminggu main game ini, uwaw penyakitku hilang! Dulu main Resident Evil 6 saking takutnya bisa ampe mencret-mencret. Kalo sekarang? Widiiiiih berak biasa. Hahahaha

Belom sampe situ, dulu gue gagap banget main game dengan kontrol gerakan WASD. Setelah sebulan main game ini, UWAW JUKING GUE BUSUK BANGET hahahahahahaha!

Walau juking (nge-gocek) memang masih busuk, sekarang gue udah lebih luwes bergerak pake WASD, terus mata juga lebih awas, pedes aja palingan :)

Anyway...

Berhubung udah banyak blogger/gamer indonesia yang nge-review game ini, mungkin gue bakalan lebih ke sharing insight aja ya. Jadi, setelah bermodalkan 86 hours of playing, apa aja yang udah gue pelajari?
I play mainly as killer, so .. yeah ...
Perdebatan abadi antara Killer & Survivor : Should You Camp?

Hanya dengan satu topik tersebut, game ini sukses menghasilkan gamer-gamer toxic yang luar biasa banyaknya. Nggak yang Jakarta, nggak yang luar negeri, yang namanya toxic kayaknya emang bersumber dari Asia ya?

Belum lagi match-making yang sama busuknya dengan kebiasaan playernya, tabiat saling pengertian sangat sulit ditemukan di game ini. Buat gue, perdebatan ini sama halnya dengan ngomongin duluan mana ayam atau telor; nggak ada ujungnya.

Jadi wahai para killer, haruskah kalian camping? Jawabannya adalah tergantung perspektifnya. Killer tersebut nyari bloodpoint atau nyari kill?

Kalau ternyata killer tersebut nyari bloodpoint, berikut manfaat yang player dapatkan:
1. Kamu pasti lebih disukai para survivor karena memberikan game yang less-boring dan berdurasi lama dengan nggak nungguin hooked survivor.

2. Karena sumber poin terbesar Killer adalah dari hooking survivor, dengan perspektif ini, kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak bloodpoint jadi terbilang besar. Berhubung kamu nggak camping, secara langsung kamu juga memberikan kesempatan para survivor untuk menyelamatkan temannya, agar nanti bisa kamu hook lagi, dan berarti poin lagi! Yay!

Jadi, kalo Killer hanya nyari kill doang, apa salah? Ya nggak juga, tapi secara nggak langsung poin yang didapatkan oleh survivor juga lebih sedikit akibat minimnya unhook bonus. Tapi sekali lagi, kesenangan itu kan subjektif. Mungkin dia senang aja bunuh-bunuh tanpa dapet poin, doesn't matter.

Mungkin survivor harus rela bersedih karena minim unhook bonus, tapi ya manfaatkan kesempatan killer-camp ini untuk ngebabat habis generator. Dalam sekali durasi hook dan killernya camping, kamu bisa dapet 2-3 generator, lho.Yang mana kalo jadi killer, sebenernya rugi banget karena banyak ngebuang waktu untuk camping satu survivor. So, choose wisely, nggak perlu diperdebatkan.

Di sisi lain ...

Killer itu paling benci sama para tea-baggers (gerakan jongkok-berdiri berulang-ulang di depan exit gate, dengan tujuan membuang-buang waktu killer) yang sebenernya lebih oke untuk diperdebatkan. I mean, why you all doing this? Dapet bonus juga nggak, kesel iya.
How to Counter This?
Walaupun developer sebenernya udah banyak disemprot soal isu-isu ini, gue masih punya beberapa cara untuk mengurangi kebiasaan toxic yang ada di Dead By Daylight. Yaitu:

1. "Swift Escape" bonus sebanyak 10.000 bloodpoint atau semacamnya lah. Yaitu poin tambahan yang akan didapat survivor jika dia memasuki gate exit lalu escape selama kurang lebih 3 detik. Lewat dari itu, ya nggak dapet. Nah, gue yakin ini efektif banget buat membasmi para tea-baggers. Siapa sih yang nggak mau 10.000 bloodpoints dengan segitu gampangnya?

2. Di sisi killer, bisa dikasih semacam "Camp Penalty", yaitu semacam bonus speed boost untuk survivor saat repair generator, cleansing totem, dan mempercepat proses unhook saat killer mutusin untuk camping. Waaaaah, gue yakin killer kapok untuk camping. Game jadi lebih balance karena bloodpoint makin adil untuk semuanya.

3. Sayangnya memang gak ada cara yang efektif selain melibatkan developer. Tapi sementara ini, gue selalu menghadapi para tea-baggers dengan: Diemin aja. Hahahaha, cara ini efektif kalo lo pake invisible killer kayak Freddy atau The Wraith. Caranya, lo deketin exit gate, tapi dibalik tembok atau di luar, Biarin aja mereka deg-degan sambil jongkak-jongkok sampe bosen. Yang penting, mereka gak tahu posisi lo. Intinya, jangan kasih seneng :)
Tentang Teachable Perk
Begitu lo dapetin salah satu teachable perk dari killer mana pun, perk tersebut juga akan muncul  dan bisa dipake di killer lainnya. Tapi kayaknya level teachable perk ini cuma ada dalam versi tier I ya? CMIIW. Teachable Perk ini selain unlock via blood-web, juga bisa dibeli di Shrine of Secrets dengan memakai Iridescent Shard seharga 550-750.

Shard ini bisa didapatkan saat main game dan dihitung per menit; 1 menit = 1 shard. Jadi untuk bisa beli satu teachable perk seharga 550 di shrine, kamu perlu main sekitar 50 kali dengan durasi permainan 10 menit per game.

Oke, karena gue seringnya main killer, yang harus lo lakukan adalah menentukan perk dari killer mana yang paling bagus untuk didapetin. Maksud gue, ternyata nggak semua perk itu berguna dan bisa cocok untuk semua killer. Untuk hisa menentukan perk mana yang berguna, mungkin bisa lo pertimbangin dari sisi playstyle, atau kebutuhan dasar dari killer. Sebenernya apa sih yang paling dibutuhin setiap killer?

1. ABILITY TO DEAL WITH PALLETS - Level up your TRAPPER

Trapper ini, selain menjadi ikonnya DBD, ternyata memang punya teachable perk yang wajib dikumpulin, yaitu Brutal Strength dan Agitation.


2. TRACKING SURVIVOR EFFICIENTLY

Dengan map seluas DBD, pastinya gemes dong kalo udah keliling lapangan 10 menit lalu panik gak nemu survivor dan generator nyisa satu? Yes, tracking ability is a must. Kalo kamu selalu tahu di mana posisi survivor, kiamat udah. Survivor susah kabur, susah repair, dan pastinya susah menang. Setelah TRAPPER, investasikan bloodpoint lo ke NURSE & LEATHERFACE. Karena mereka berdua punya tracking ability yang sangat lo perluin:


Atau jika masih kurang lengkap, bisa lo tambahin dengan BLOODHOUND (The Wraith) dan WHISPER.


3. STEALTH ABILITY

Kemampuan terakhir biar killer lo makin "GG" adalah anti-deteksi atau meminimalisir terror radius/hearthbeat. Karena lo gak akan bisa kill siapa-siapa kan kalo keberadaan lo selalu ketahuan? Teachable Perk yang berguna untuk ini adalah MONITOR & ABUSE dari The Doctor & INSIDIOUS - gue selalu pake ini kalo main Michael Myers :)


Tapi memang untuk INSIDIOUS jarang menjadi pilihan karena killer biasanya cenderung untuk memilih camping. Tapi buat gue perk ini under-rated sih, karena selalu gue pake untuk bikin bingung survivor. Bikin mereka jadi ragu-ragu yang akhirnya repair generator jadi banyak tertunda. More time for the killers!
Some Useful tips

Di bagian akhir, mungkin gue mau share beberapa insight saat gue pake killer. Agar tabungan bloodpoint lo efektif, kayaknya akan lebih baik lo nentuin killer mana yang akan lo investasikan untuk ngumpulin bloodpoint. Killer ini harus yang paling enak dipake tanpa teachable perk. Kalo gue sih:

1. KILLER STRATEGY (THE NIGHTMARE - FREDDY KRUEGER)

Kelebihan Freddy itu kayaknya ada di speed ya. Sejauh ini asik-asik aja tanpa mandatory teachable perk. Sayangnya kemampuan deteksi Freddy hanya aktif kalo di luar terror radius, jadi Freddy harus 'nandain' sebanyak-banyaknya survivor dan cepet-cepet colok di hook. Nah, biasanya kesempatan ini datang pas survivor mutusin untuk nyelametin temennya.

Manfaatin sesi unhook ini untuk nandain survivor yang ada. Yaaa camping dikit gak papa lah. Perk bawaan dari Freddy udah cukup oke kok. Preset non-teachable gue biasanya: Whisper, Remember Me, Blood Warden, Fire Up.

2. KILLER STRATEGY (THE SHAPE - MICHAEL MYERS) (Coming soon)
3. KILLER STRATEGY (THE TRAPPER) (Coming soon)



Thumbnail from
http://media.moddb.com/images/games/1/53/52481/Deluxe_edition_artwork.jpg

Hey, it's me again!

So, it's almost two years I use Xiaomi device as my daily driver.

Pertama kali Xiaomi Redmi Note 2 rilis, gue langsung jatuh cinta gara-gara gaming-processor Helio X10 yang diusungnya waktu itu, karena notabene belum ada smartphone lain yang berani pake di jamannya. Seketika itu juga, langsung buka Youtube, download belasan reviewnya, dan semedi untuk memantapkan hati.

Dari segi model oke, harga oke, RAM oke, spek oke, dan kameranya pun lumayan. Detik itu juga,  gue semakin yakin ini adalah smartphone yang tepat untuk mobilitas gue sehari-hari.

Hari-hari pun berlalu, gak berasa udah dua tahun gue bareng terus sama hape ini. Sampe tiba masanya, sekitar tiga hari lalu, barang ini kok rasanya mulai bikin gue jengkel.

Ceritanya gue lagi in-door livetweet, di tempat yang sebenernya cukup-cukup aja cahayanya meski sumbernya dari lampu. Tempatnya hall gede gitu, objek yang jadi tantangan di situ hanyalah hamparan pengunjung, dan LCD screen super gede.

Gue pun mulai jeprat-jepret di berbagai angle, lalu gue cek di gallery, kok fotonya semakin memprihatinkan kalo dipake di area in-door. Hasilnya relatif blurry, detail yang boro-boro, dan berkesan ngelawan cahaya. Gue berkesimpulan, bahwa kilatan cahaya dari LCD screen ini juga memperburuk performa sensor kamera yang sepertinya emang mulai menurun.

News flash sedikit, keadaan Redmi Note 2 gue ini rasanya emang lagi turun2nya. Gak cuma soal hasil kamera, yakni ada beberapa masalah lain sepertinya punya reaksi berantai satu sama lain:

1. Performa gaming mulai banyak frame-drop/frame-skip, khususnya saat main game yang tadinya fine-fine aja seperti Vainglory, Mobile Legend, Civ Revolution, Get Rich dan Yugi Oh Duel Links.

2. Udah sebulanan, internal storagenya selalu merongrong minta dikosongin alias terus-terusan ngasih notif bahwa space mulai habis. Pas dicek di PC, emang bener hanya tinggal 180 MB. Tapi begitu di-clean-up, entah kenapa masalah yang sama kembali berulang.

3. Multi-tasking mulai laggy. Buka Google Chrome selalu diselingi force-close sekitar dua sampe tiga kali, setelahnya relatif lancar.

Gizbot.com
Di hari yang sama, sebelum berangkat gue juga sengaja minjem smartphone istri yang sialnya kebetulan Xiaomi juga, yaitu seri kakaknya; Redmi Note 4. Karena dari rumah roman-roman perasaan gue udah gak enak, rasanya kok gue perlu bawa cadangan hape hari ini.

Setelah meratapi hasil foto yang kualitasnya makin kayak cumi asin ini, gue keluarin lah si Note 4 sambil berbisik pelan ke telinganya speakernya:
Aku mengandalkanmu ...
Dia pun menjawab "iya, mas", sambil seraya mengibaskan selendang dan terbang meninggalkan gue menuju salah satu gedung Bakrie. #LHA #TERNYATASETAN #INIAPASIH

Mari kembali ke livetweet.

Gue keluarin lah si Redmi Note 4, gue klik kamera, dan .................. MATOT! Like seriously???????? Dia mati begitu aja dong, booting di suasana bikin idung megap-megap karena takut momen lewat. Gue coba ngurut dada, eeeh dia marah. #TernyataDadaSatpam

Gue tungguin aja 3 menit, dan diaaa ............... MATI LAGI! Ini brengsek banget sih, entah berapa kali gue ngomong ANJAY kayak orang lagi yasinan. Pas gue cek selang semenit, hape ini gak kunjung masuk ke home-screen. Gue pasrah.
Ternyata dia Bootloop ...
Sesampai di rumah, gue konsultasi (gak deng, marah-marah tepatnya) baik-baik sama istri soal pengalaman hari ini. Ternyata, tabiat terkutuk itu emang kerap muncul jika smartphone tersebut gak dimasukin sim-card.

Batin gue, gilak fatal amat. Dari seantero masalah smartphone yang ada, boot-loop (kondisi di mana smartphone stuck di layar booting lalu restart lagi) gara-gara gak ada sim-card itu mungkin masuk ke list yang berapa riburiburiburibu ke bawah gitu. Jarang banget!

Tetiba gue jadi flashback. Sebelum megang dua smartphone ini, kita berdua sempet pake Mi4i buat daily-driver. Kita sempet suka banget, hapenya kecil, sleek, bersih, berkesan premium, dan kameranya bagus banget. Paling nggak, kepadatan pixelnya bener-bener mencukupi kebutuhan kita dalam hal jepret-jepret cantik.

Hampir setahun kita pake, kita sempet ngeh kalo hasil fotonya belakangan ini kok gak lagi sama seperti saat pertama kali beli. Kita sampe nyempetin bandingin foto lama dan foto baru ini, dan bener. Kualitasnya menurun. Apakah karena update software berkala? Atau karena ketahanan sensor, atau kualitas sensor Sony yang Xiaomi pake? Nobody knows.

Kasus ini diabaikan berhubung seminggu kemudian, hape ini accidentally jatoh karena kesenggol dan layarnya pecah. Mengingat deadline yang waktu itu lagi padat-padatnya, kita gak begitu ambil pusing dan langsung nyari hape lain sebagai pengganti.

Berbekal dengan seluruh kejadian dan pengalaman ini, gue semakin mantap, I can't rely to this thing anymore.
The following decision of choice is a huge stepping stone for me, because I decide to get a new, expensively pain-in-the-ass branded phone. An iPhone.
Gue itu, orangnya suka ngulik, kalo penasaran harus dituntasin sampe ujung, dan biasanya harus selesai hari itu juga saking ngototnya. Ya kalo ada waktu aja sih, tapi dengan era keterbukaan informasi kayak sekarang ini, most likely kita selalu bisa nuntasin rasa penasaran hanya dalam hitungan beberapa jam.
Dulu waktu mau beli Xiaomi atau barang apa pun, pola riset yang gue terapkan selalu sama sih.

1. Riset dasar: Perkaya wawasan soal barang tersebut.

Youtube is the best place to research. Karena nyari pembanding secara visual itu lebih enak daripada baca puluhan artikel sambil ngebayang-bayangin. Jadi, gue kumpulin belasan video dari sumber yang gue tahu reliable & udah terkenal reputasinya. Lalu catet poin penting yang dirasa bisa berpengaruh dalam decision-making.

2. Coba cek testimoni terkait barang tersebut di forum-forum, atau di Youtube juga bisa.
3. Gue selalu cek harga di berbagai toko online terkemuka sebagai ancer-ancer, hanya sekedar biar gak kaget atau ngerasa ditipu karena gap harga. Gue jarang beli online, prefer offline karena selain bisa cuci mata, bisa sekalian ngobrol-ngobrol di store :)

4. Cek kembali hasil compile-an yang udah dibuat, lalu mantapkan hati. Kuncinya, bukan apa aja kelebihan barang tersebut, tapi apakah kekurangan barang tersebut bisa lo terima. Kalo udah mantap, hajar!

Karena sebelumnya gue termasuk dalam jajaran #MendingXiaomi, keputusan ini tentu lahir dengan banyak pertimbangan, selain omelan istri tentunya, he he he he.

Berbekal kepahitan sebelumnya, faktor terkuat yang mempengaruhi keputusan pastinya soal kamera. Kedua, adalah multi-tasking. Dengan OS yang super-stabil, gue belum pernah ngerasain enaknya scroll-swipe-scroll dan berpindah aplikasi satu ke yang lain se-fluid di iPhone.
Di antara hape branded lain, kenapa gue akhirnya hijrah memilih iPhone?
Untuk itu, gue punya beberapa pertimbangan subjektif:

Kenapa bukan Sony?
Gue suka produk-produk Sony, khususnya yang ada hubungannya sama permusikan. Smartphone-nya mereka pun keren, berani beda, dengan desain kotak edgy-nya dan kustomisasi UI yang beda, mereka tetap bersaing dan bertahan sampe sekarang. Hanya aja, gue kurang familiar dan sama sekali gak berpengalaman dengan smartphone Sony. Sekali pun belum pernah megang atau pun swipe-swipe hape mereka yang bernama Xperia itu lho. Jadi ya gue coret.

Kenapa bukan LG?
Simple, walaupun pake stock android, UX/UI-nya mirip-mirip dengan sebagian besar hape cina jaman sekarang. Ngebayanginnya aja, gue udah boring duluan hahahaha.

Kenapa bukan Samsung?
Semua produknya identik! Emang sih S-Pen nya keren, tapi rasanya saat ini belom kepake-pake banget gitu. Selain alasan tersebut, gue gak tahu mau ngapain lagi dengan Samsung beserta UI-nya. Inovasi yang mereka bikin lebih mengarah ke gimmick dan beberapa minor refinements.

Source
Praktisnya, alasan kenapa gue pilih iPhone adalah karena faktor reliability. Punya rasa aman karena reputasi/kualitas serta kinerja produknya yang udah terkenal di seluruh dunia, is one of a good investment. 

Sekarang aja, masih banyak banget lho yang ngeburu iPhone second-ori kayak seri iPhone 4/iPhone 5 dan kinerjanya masih bisa menyaingi kinerja hape keluaran tahun kemarin. Keren gak sih, selalu butuh waktu lama dari setiap (spesifikasi) seri iPhone untuk jadi obsolete atau basi.

Saking seringnya ngikutin review-review smartphone yang beredar saat ini, gue semacam mulai ngerti gimana cara masing-masing brand berkompetisi satu sama lain memasarkan barangnya agar disukai publik, yang mana juga mempengaruhi pandangan/pilihan kita pada suatu produk smartphone.
Pernah penasaran kenapa hape branded selalu lebih mahal?
Untuk mempermudah bahasan ini, biasanya gue selalu mengkotak-kotakan beberapa merk smartphone ke dalam dua kategori, yaitu hape cina/hape keluaran perusahaan baru (Xiaomi, Oppo, Smartfren, Lenovo Vivo, HTC) dan hape branded/penguasa pasar/pemain lama (Sony, Samsung, LG, Apple).

Source
Alasannya adalah: karena riset & budget iklan. 

Di atas kertas, gue beranggapan Apple & Samsung adalah pemain lama, otomatis riset yang udah mereka lakukan ke produk mereka juga pastinya lebih matang, sehingga menghasilkan produk yang bagus juga. Tapi melengkapi itu semua, barang bagus tanpa marketing bagus juga pasti zonk abis.

Terus kenapa hape cina dengan spesifikasi identik bisa dijual lebih murah? Atau lebih tepatnya, apa yang mereka lakukan untuk menekan harga? Banyak banget!

Selain budget promosi yg dipangkas, "gimmick" rilisan spesifikasi terbaru masih menjadi strategi jitu. Downside-nya, ya barang dengan spesifikasi tersebut belum banyak yang pakai. Dengan kata lain, masih minim riset. Suhu hape panas, hasil jepretan ala-ala canvas, baterai berdaya raksasa tapi bocor setengah hari, adalah salah satu contoh minimnya riset.

Mari kita ambil contoh asal produk Xiaomi dengan RAM 6 GB dengan prosesor Snapdragon terbaru quad-core 835. Spek ini jelas unggul di atas kertas. Tapi gimana dengan penampakan aslinya? Udah jadi rahasia umum kalo Xiaomi boros RAM gara-gara MIUI-nya. Alhasil, RAM 6 GB jadi tinggal 3 GB aja. Sementara iPhone, RAM gak usah gede-gede, 3 GB aja, core gak usah banyak-banyak, dual core aja.  Believe it or not, performanya bisa sama lancar dengan Xiaomi dengan RAM 6 GB dengan harga yang terpaut jauh. Kok bisa? Ya, karena perbedaan waktu riset.

Itulah strategi marketing. Ujungnya, akan kembali ke daya beli customer untuk menemukan yang cocok, karena pasar hanya menyediakan beragam pilihan.

Cheers!



Thumbnail:

Hey it's me again!

Kalau kita udah mulai ngomongin film Thailand, mereka emang gila sih.

Dulu gue pernah nonton Ong Bak, dari awal beli popcorn ampe film abis, itu cemilan gak kemakan saking deg-degannya dan distraksi horror yang intense di film kampret itu.

Start dari situ, gue sadar bahwa para film-maker Thailand gak bisa dianggap remeh, perlahan-lahan mereka mulai merangkak naik loh. Apakah mereka ingin menghabisi dinasti Bollywood?? HHAHAHA
kembali ke Bad Genius ....
Menurut gue, film ini bisa dibilang satu-satunya film terbaik sejauh yang gue tonton di sepanjang tahun 2017 ini. Bahkan film-filmnya Marvel aja lewat? I can say yes! Yatapi ngebandingin film ini sama Marvel emang nggak apple-to-apple, tapi since ini blog gue dan bisa ngomong seenak udel, marilah kita coba.

Marvel itu, ya bagus. Dari overall packaging aja gak mungkin orang gak suka film-filmnya Marvel. Dibikin penasaran, udah pasti. Dimanjain sama special effect dan teknologi green-screen yang aduhai, pastilah.

Lalu gimana review gue soal BAD GENIUS? Film ini justru gak muluk-muluk. Ambil aja konflik sederhana:
Curang itu tergantung dilihat dari mana. Who's agree?
source
Tokoh sentral di film ini; Lynn, si jago matematika yang sepertinya kalo lo tanya apa pun, dia pasti tahu jawabannya. Tapi walaupun pinter banget, kemampuan sosial Lynn nol besar. Sampe akhirnya di hari pertama pindahan sekolah, dia ketemu sama satu-satunya murid yang mau bertemen sama doi; Grace si tukang flirting. Ituuu lho yang mukanya mirip Maudy Ayunda.

Mulailah si Grace manfaatin soft spot Lynn; memohon agar Lynn mau bantu lulusin ujian dia. Muncullah stunt "Shoe & Eraser" yang super-keren di sini.

source
Udah mah tukang flirting, mulutnya ember. The perfect combo of Lambe Turah ini akhirnya tembus ke kuping Pat, anak tajir yang (entah kenapa mau) pacaran sama Grace, mengiming-imingi Lynn soal seberapa besar keuntungan yang bakal dia dapat kalo dia mau bantuin gengnya lulus ujian.

Terpojok keadaan finansial keluarga yang meresahkan, akhirnya Lynn setuju untuk menggadaikan isi otaknya untuk jadi "cheat-franchise". Tapi kali ini, mereka semua mulai bermain rapi.

Udah gak pake sepatu dan penghapus lagi, melainkan membuat suatu pola/formula pijitan not piano yang diwakili dengan jari, yang pengaplikasiannya mirip seperti kode morse. Ini keren gilak sih.

Sampe akhirnya Lynn ketemu lah dengan saingannya; Bank si murid baik-baik, pinter dan polos, mulai mengendus ketidak-beresan franchise yang lagi dikembangin Lynn. Nah, lho!
Cheating seems bad for business.
Lynn & Bank sebenernya sama-sama pinter, tapi punya satu perbedaan. Lynn ini dari lahir kayaknya emang udah jenius, sementara Bank pinter karena jago menghafal. Persamaannya, mereka sama-sama gak pandai menjalin pertemanan.

source
Lynn beruntung karena masih bisa sedikit opportunist, sementara Bank ini anaknya lurus banget. Sedih rasanya ketika Bank harus rela melunturkan seluruh prinsip hanya karena harus ikut 'aturan bermain', terpojok karena keadaan yang kurang beruntung.

Pasti sebagian besar dari kita pernah lah ngerasain drama tersebut pas jaman sekolah, membuat film ini makin berasa deket dengan keseharian dan real.

Menariknya, semua karakter yang ada di film ini sebenernya antagonis. Masing-masing dari mereka punya pokok permasalahan yang berbeda-beda, dengan motif dan rencana penyelesaian masalah yang berbeda-beda juga.

Orang yang sekelas Lynn, sang jago matematika pun, ternyata gak cukup pintar untuk menebak konsekuensi apa yang akan dihadapi dengan cheating business ini, dan meski dengan beberapa kali latihan, lynn cukup lihai berbohong, musuhnya hanyalah dirinya sendiri.

Sementara Bank meskipun pintar, harus rela dipukuli dan 'main kotor' karena terlalu naif.

Ekspansi dari konflik tersebut dikembangkan secara apik. Tentang bagaimana sebuah kepintaran diadu dengan harga masa depan, harga pertemanan, dan nasib keluarga.

Sampe akhirnya mereka sadar akan 'aturan bermain' yang eksis di dunia ini, di mana mereka mulai mempertanyakan fundamental belajar mereka :
Pinter aja gak cukup kalau gak bisa cari duit.
Konflik njelimet tersebut sukses dibungkus dengan aroma drama, script & teknik-teknik kamera minim special effect yang bikin kamu speechless. Kamu musti liat gimana sang kamera nge-shoot salah satu scene, di mana tangan lagi ngurek-ngurek pensil 2B di lembar jawaban.

Semua cast-nya juga gak kalah mantep, lucu-lucu hormonal ala-ala remaja, enerjik, dan digarap dengan angle kamera dari sudut pandang komikal yang bikin konflik di antara mereka makin lucu sekaligus menegangkan.

Semua porsi film digarap pas, dimulai dari pengenalan karakter dan konflik yang terungkap secara bertahap tapi gak ngasih kamu napas, lalu BOOM BOOM BOOM plotwist mulai bermunculan dengan delivery yang digarap sangat matang!

Gak perlu bikin film bersekuel dan special effect yang njelimet penuh hingar-bingar. Kasih aja kita konflik sederhana, simple, dekat dengan keseharian seolah kita pernah/mungkin aja ngerasain, dan teknik kamera serta cinematography yang kece.

Kalo soal satisfaction, gue rasa film ini adalah juaranya.  

Thumbnail:

Hey, it's me again!

Setiap tahunnya, gue selalu berusaha untuk menyempatkan diri buat bikin sedikit catatan di blog. Bukan buat pencapaian atau apa, tapi setiap rintisan kalimat di post ini, sehingga kalo tahun depan gue baca post ini lagi, seenggaknya gue bisa tahu state pikiran gue saat itu ada di mana dilihat dari cara menulisnya.

Kira-kira gitu sih, karena memang banyak yang gue lewatin di tahun ini. Bikin cara ngomong gue sekarang udah macam dosen pembimbing aja. *etaaa etaa terangkanlah *lalu dagang rujak

26,  was really tough for me. Semakin hari, kayak semakin tahu cara dunia/lingkungan ini gimana kerjanya, semakin tahu bahwa yang namanya kompetisi sebagai manusia akan selalu ada dan gak pernah berhenti. Terkait hal itu, modal yang sangat dibutuhin adalah sebuah konsistensi. Waini.

Konsistensi di umur segini, itu rasanya mulai hmm ... apa ya ... melelahkan? Hahaha.

26 adalah waktu-waktu kritis di mana passion kamu mulai memudar dikikis rutinitas. Sampe akhirnya, lama-kelamaan kamu nggak akan berasa bahwa dua hal yang berbeda batasan tersebut, mulai ngeblur menjadi satu lalu kamu anggap bahwa passion kamu itu, yaaa rutinitas. Ada yang berasa juga mungkin?

Rutinitas, biasanya kamu lakukan karena kewajiban. Kalo emang passion, pasti ya harusnya rutin. Tapi sesuatu yang dikerjakan secara rutin, belum tentu sebuah passion. Eaaa gimana cobaa :))

26 adalah waktu-waktu di mana kamu mulai malas keluar gara-gara baru jadi penganten baru. Kalo gue sih, gak cuma jadwal ena-ena-nya aja yang bikin mager, tapi ini lho, gue dari awal kayak serasa kematengan gitu, baru tahun pertama udah mikirin gimana cara maintain rumah tangga. Orang mah kayaknya lepas aja gitu. Ya gak sih?

26 adalah adalah waktu-waktu di mana kamu galau "kapan nih nambah member" di rumah. Yaaa terpaan norma sosial sih selalu ada ya, meski kadang suka jadi pikiran, tapi gue gak ambil pusing sih.

Abis gimana ya, celetukan asal itu kadang emang selalu datang dari orang yang kurang pendidikannya, gak tahu caranya memilih topik untuk berbasa basi, dan kita juga salah kalau menyalahkan dia karena ketidaksopanannya.

Toh, dia juga gak ngerti itu ternyata jauh dari kata sopan. Enaknya sih, ya jarang-jarangin aja bersinggungan sama orang yang kamu tahu tipikalnya seperti itu. Kemungkinan juga, dia tuh jarang gaul. Dia nggak tahu tuh pergolakan jaman sekarang kayak gimana, norma-norma apa yang mulai terkikis dan disesuaikan dengan keadaan sekarang, serta pakem baru apa yang udah lahir dan diterapkan. Sehingga pas tahu ada pakem yang menurut dia agak "melenceng", kagetnya bukan main, lalu judgment akan sangat lancar dimuntahkan begitu aja, bodo amat mau kenal atau nggak.

Solusinya, bukan lantas menjadi anti sosial gara-gara mutusin untuk jarang bersinggungan, tapi buatlah dia sungkan dengan kamu. Bisa dalam bentuk memberikan bantuan (sebisanya aja), menegur sekedarnya setiap ketemu sambil senyum, atau kalo dia ngajak ngobrol sebuah topik, keluarkan retorika terbaik kamu biar dia paham sedalam apa vocabulary-mu di topik tersebut.

Present time, sehari setelah 25 Juli.
26 juga adalah waktu di mana kamu mulai khawatir apa yang akan kamu lakukan begitu JDERR menginjak angka 30. Rasanya sebentar banget gitu, sampe mendadak lupa udah ngapain aja. Iya, karena kebanyakan dari kita pas umur 15 pengen banget dianggap dewasa, bawaannya pengen cepet-cepet gede aja sampe umur 20 ke atas. Yaaa maklum, banyak kemudahan-kemudahan yang pingin kita rasain begitu akhirnya sampe di umur 17 tahun.

Membayangkan umur 30, agak-agak ngeri kematengan gimana gitu. Selalu wondering, duh gue udah jadi apa ya nanti, bakal kayak gimana nanti, masih main musik nggak, masih bisa ngeblog nggak, masih bisa jalan-jalan nggak, dan yang paling bikin leher sakit: Masih bisa sehat untuk nyari kerja atau nggak? DUEERRRR
But, 26 is fun,sure do :)
The major change that happened in my twenty six, is marriage. Dengan tanggal yang sengaja dipepet-pepetin biar deket sama ulang tahun gue WHICH IS ADALAH TANGGAL TUA, merupakan suatu anugerah sekaligus pikiran yang akan gue arungi seumur hidup.Tapi senengnya adalah, gue dapet seorang partner hidup yang super-pinter, punya banyak perbedaan untuk dijelajah satu sama lain, juga punya sumber daya yang subur. *wink -- dan setelah hampir tiga tahun mendosa bareng, akhirnya kami sekarang selalu pulang ke rumah yang sama.

Yaiyalah, orang musti bayar kontrakan ...

Ciyeee yang udah berhenti ngekos. Gileeee lu ndro, gue hampir 9 tahun ngekos dari jaman sekolah, akhirnya sekarang bisa tidur di tempat yang gedean dikit hahaha. Bisa nyicil perabotan, punya banyak space untuk duduk ngegame dan brainstorm tanpa harus tabrakan saat jalan, karena satu-satunya space kosong saat ngekos dipake buat naro jemuran.

Oh ya, dan hari-hari setelah marriage adalah sebuah pengalaman pertama yang sangat membekas. Dimulai dari persiapannya yang sangat menguras energi dan pikiran, ya gugupnya, ya mulesnya, ya keluar duitnya, ya disyukuri aja. Lalu yang berkesan lagi sebenernya saat resepsi. Seneng aja gitu orang dateng rame-rame tapi gak ada yang kenal. Kayak mendadak dapet networking yang luas tapi gak ada yang bisa dipake HAHAHAHA

Tapi emang yang rasanya paling blessful adalah bersatunya dua keluarga sih. Jadi, sekarang punya dua orangtua deeh. Dan saat marriage ini adalah pertama kalinya gue merasa sangat diterima dan dihargai, dan didengarkan sebagai seorang figur yang utuh.



Di dunia perkariran, 26 adalah sebuah titik di mana gue minggir sejenak dari kehidupan ahensi digital, untuk bekerja di sebuah perusahaan yang saat ini lagi berusaha menyelesaikan mega-proyeknya di Jakarta. Gue bergabung di dalam divisi Ghostbuster, sebuah tim pemburu hantu yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing, tapi masih suka susah terima kalo ternyata kita sendiri lah hantunya hahahahahaha

26, adalah tentang being commited dan maintaining consistency. Terlepas dari apa yang akan gue kerjain hari ini dan di masa mendatang, hasrat untuk nge-band lagi rupanya belom pudar lho, masih suka jamming ala-ala, belom lagi ditambah misi mulia yaitu belajar merintis karir sebagai pembuat konten biar bisa jadi Youtuber tahun ini :)) -- Oh ya, dan sampe detik ini pun, gue masih tetap berambisi untuk jadi RI 1. Camkan!



Hey it's me again!

You got to agree, flow pekerjaan yang stuck atau buntu gara-gara ketidaksamaan visi dan goals itu menjengkelkan. Kitanya udah capek-capek peras otak secara sistematis dan visioner hanya untuk bikin deck, lalu mempertimbangkan segala macem hal agar suatu campaign sukses, sesuai budget, dan punya market-impact yang efektif, terkadang harus tersingkir hanya karena mereka bengek.

Iya, bengek karena empat alasan:

1. Bengek karena tergagap dengan ide sebesar itu lalu malah jadi pesimis dan ujungnya malah meragukan kualitas pekerjanya.

2. Bengek karena sebelumnya belum pernah denger ada ide se-breakthrough itu, akhirnya malah takut pakem-pakem selama ini udah ada dan bikin mereka nyaman, terancam musnah. Why so personal?

3. Bengek karena kepalanya overload. Overload karena selama ini mereka gak menyimak dan mengikuti pergolakan perubahan secara bertahap.

4. Bengek karena memiliki mindset yang sempit. Berpikir bahwa kamu ingin mengambil posisinya dia. Ketakutan ini wajar, mengingat kamu lebih kece daripada dia :)

Dari sekian banyak masalah di dunia kreatif, rasanya masalah ini yang paling melelahkan dan bikin butt-hurt.

Problem:

Jadi, kenapa sih mereka ini?

Mereka adalah orang-orang yang alergi dengan perubahan. Mereka bakalan ketar-ketir dan gagap jika sebuah dinamika datang, masuk dalam comfort zone mereka.

Karena mereka adalah tipikal orang "just employing" yang hanya sekedar bekerja nine-to-five setiap harinya. Satu-satunya objektif yang sangat mereka tunggu yaitu jam pulang kerja, dan pay-day.

Dengan mental dan mindset "just employing" tadi, terkadang mereka terkesan seperti penghambat dalam relasinya terhadap dunia pekerjaan. Cukup wajar kalau mereka agak takut dengan adanya dinamika dan perubahan. Yah, karena ritme yang monoton sudah cukup baik dan asik buat mereka, buat apa sih pake ada terobosan-terobosan segala macem?
"Apa pun bentuknya, sebuah perubahan tidak bisa dihindari. Kamu bisa milih untuk resist, atau terinjak-injak dan ditinggal."
Karena kesulitan mengikuti perubahan yang datang, cari muka adalah reaksi bertahan hidup pertama yang akan mereka lakukan. Semata untuk mencari zona aman di mana mereka cukup merasa "masih in-charge" di suatu situasi, untuk menutupi ketertinggalannya, atau sesederhana takut disangka gak kerja.

Mereka juga termasuk tukang ngeles ulung yang biasanya hobi mengulang-ulang pembicaraan orang agar terlihat mengerti permasalahan. Lha habis bingung mau nanggepin apa, yang ada aja lah dipake.
Gak tahu malu.
Untuk jangka panjang selanjutnya, setelah merasa menguasai keadaan, mereka akan berusaha untuk menarik orang-orang di sekitarnya untuk menyesuaikan dengan standar (ketertinggalannya) saat ini dengan berbagai alasan yang gak masuk akal, alias nyuruh orang down-grade ketimbang beradaptasi dan belajar untuk upgrade.

Yang lebih pait lagi, mereka gak punya kadar kritis yang cukup sehingga enggan untuk bertanya. Khususnya menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan (seberapa jauh) ketertinggalan mereka.

Gue melihat ini sebagai keadaan yang bikin kita serba salah dan terjebak dalam dilema "mau milih yang bener atau yang aman?" kind of situation. Apalagi jika kita bukan termasuk golongan yang punya otoritas/kuasa yang cukup, rasanya akan lumayan sulit buat mengambil suatu keputusan yang solutif.

From: AskIdeas

Solusi:


Kira-kira, ada nggak sih cara agar kita bisa siap menerima suatu perubahan dan selangkah lebih open-minded?

Kayaknya sih gak ada tips atau trik yang absolut ya. Gue kira, kita bisa sedikit mengarahkan diri agar jadi pribadi yang gak cepat puas, sehingga bisa terbuka dengan berbagai opsi secara terus menerus.

Lalu, bisa juga dengan mulai untuk jadi pendengar yang baik, WHICH IS VERY HARD bagi seseorang yang belum bisa melewati poin pertama. Karena dengan menjadi pendengar yang baik, kamu juga melatih diri untuk lebih observant dan bisa menilai serta menyesuaikan mana yang baik untukmu, dan mana yang nggak. Dan yang paling penting, menjadi pribadi yang lebih bisa menghargai, works on both side.

Ikhlaskan gengsimu menjadi debu-debu peri, karena gengsi akan selalu kalah dengan will to learn.

Untuk beberapa situasi khusus, semisal kamu udah hampir larut dalam sikon ini, jika kamu termasuk yang punya otoritas, "menampar" yang bersangkutan secara berkala bisa jadi obat yang mujarab untuk mendidik. Kasih tahu bahwa yang mereka lakukan itu menghambat sebuah flow pekerjaan dalam keterkaitan lingkup yang besar. Kalo ndablek, ya copot aja. "Kita gebuk", kalo kata Pak Owi.

Jika kamu orang yang udah terlanjur terjebak "di tengah" alias maju mundur kena dalam situasi ini, solusinya hanya bisa bersabar sambil makan ati. Karena kamu juga harus berpikir secara strategis jika kamu gak mau ide-ide brillianmu terbuang dengan percuma di antara telinga-telinga yang entah budegnya di mana.

Meanwhile, kamu boleh mulai mempertimbangkan opsi atau kesempatan lain yang lebih sesuai untuk bisa dijalankan di kemudian hari. Cheers!


"Social Cheat hanya lah rubrik baru yang gue buat hanya untuk catatan diri sendiri. Sehubungan dengan banyaknya kegelisahan dan unek-unek akhir-akhir ini yang jika ditahan bisa bikin pingin banting-banting helm."

Thumbnail from: Media

Hey, it's me again!

Buat kami-kami (gue & istri) yang tiap hari berkutat di dunia perdigitalan dan udah terlanjur kecanduan sama radiasi layar handphone, makin ke sini kok internet rasanya lebih penting daripada beras. Gak deng. Sebenernya lebih penting beras, tapi beras yang bisa buat browsing. Brekekekek.

Setelah menanggalkan title sebagai veteran anak kos, sekarang akhirnya kami mutusin buat kontrak. Dan beruntungnya, kami dapet rumah dengan harga terjangkau di wilayah yang cukup strategis-meski-agak-ndlesep, kami bisa merasakan (kembali) segala kemudahan dan kemasyuran hidup di kampung orang.

Loh iya bener. Di kampung itu, sebenernya lebih enak daripada tinggal di apartemen. Di sini, tukang apa pun justru nyamperin kita. Sebut aja. Tukang kerupuk, tukang galon & gas, mereka yang ngetok pintu kita, ngebantu ngecekin stok kita udah habis atau nggak. Tukang sayur di sini justru rajin neriakkin kita buat beli langsung dari depan pintu rumah, padahal pasar tradisional gak terlalu jauh. Mie ayam, batagor, somay, semua lewat dan mangkal sesuai jamnya walau kita gak pernah pengen.

Sampe akhirnya kami rebahan dan menatap langit-langit, masak sayur, dan makan seperti layaknya keluarga bahagia pada umumnya, kami sadar bahwa ternyata kami tengah terasing dari dunia modern.
EE BANGSAT KOK GAK ADA SINYAL ...
Ide untuk pasang wifi di rumah sebenernya udah langsung tercetus, tapi kendala-kendala yang muncul since kami baru pindah banget sama sekali gak memungkinkan untuk langsung eksekusi.

Sehari pertama adalah hari-hari paling sakaw kuota yang pernah gue rasain. Lah gimana kenyang makan tapi buka google aja gak sanggup. Tenaga yang ada dalam raga ini serasa mubazir, dan gue adalah tipe orang yang gemes banget sama lambatnya bandwidth. I mean, who doesn't? Please somebody kutuk gue menjadi beras maknyus.

Untunglah konter pulsa deket. Gue beli semua provider yang belom bangkrut di 2017. Akhirnya kami berjodoh sama Indosat dan Telkomsel. So far, hanya Telkomsel yang bisa tembusin sinyalnya masuk ke pintu rumah. Tapi harga paketannya kok bikin batal puasa. Di sisi lain, Indosat sebenernya punya harga yang bersahabat. Tapi apa daya, empat device yang terkoneksi dengan hanya mengandalkan tethering ternyata masih kurang reliable. Hari pertama kami tutup dengan penobatan sebagai keluarga jengkol. Cuma bisa misuh-misuh sampe bau.

Hari ke dua, gue langsung ngacir ke Bolt Store untuk meminta pertolongan. Dua minggu pertama nyobain BOLT, kami cukup fine dengan layanan pra-bayarnya yang cukup bisa menutupi rutinitas sehari-hari. Barulah lewat minggu ke-3, dompet mulai ngos-ngosan. Boros coy! Sempat kepikiran untuk beralih ke pascabayar, tapi kok kayaknya gak sesuai kebutuhan ya. Gue yang tergolong heavy-user pun mulai memohon ampun karena 100 ribu per-minggu itu termasuk azab yang luar biasa.
Weekend terakhir di bulan Mei 2017 adalah titik kebangkitan rumah tangga kami.
Buat kamu yang juga baru pertama mau pasang wifi di rumah, semoga bisa sedikit terbantu ya.

1. Riset Coverage Area

Hal pertama yang gue lakukan adalah nge-browse provider internet apa aja yang tersedia, riset testimoninya dan catet semua daftar harga paket berlangganannya.

Dari sekian banyak provider yang gue harapkan, seperti Biznet, Firstmedia, MyRepublic, dan MNC Play, gak ada satupun yang coverage-nya bisa tembus ke rumah. Setelah guling-guling bete selama hampir sejam, tiba-tiba kok pingin banget nambal ban.

Di perjalanan, gue ngeliat ada tetangga 100 meter dari rumah ternyata pasang TV cable bertuliskan INDIEHOME. Gue pikir, gila juga ini orang bangun rumah sendiri tanpa bantuan pemerintah. Anak indie banget! Gue pun langsung batal tambal ban.
Indiehome adalah harapan terakhir.
Tadinya, gue sebenernya bukan fans Telkom, apalagi setelah tahu service internet Speedy itu udah almarhum sejak tahun 2015. Kurang percaya aja gitu gara-gara banyak testimoni negatif di forum-forum. Tapi liat tetangga bisa pasang, ah siapa tahu kan coverage-nya bisa masuk rumah.

2. Hubungi Customer Service

Gue langsung kontak Customer Service Telkom di 147. Sejauh kita telfonan, mbaknya sih ramah dan kooperatif. Dia mau aja gitu bantuin jawab pertanyaan2 teknis yang njelimet. Rasanya gue harus sedikit melunak lah sama Telkom.

Karena sebelumnya udah buka website Indiehome untuk cek coverage area tapi ternyata ribet, akhirnya sekalian aja gue minta operator 147 untuk bantu ngecekin. Dianya sih pesimis ya, karena jarak sumber tarikan kabel dan rumah gue itu ternyata posisinya agak jauh. Tapi dia akhirnya mau kok bantu ngirim dua temen salesnya untuk bener-bener ngecek kebenaran isu tersebut.

Setelah udah setuju deal-deal-an harganya, dia minta gue untuk nyiapin berkas-berkas kayak KTP, KK, surat tanda kontrak, berikut surat PBB dan tanda tangan beserta materai. AH ANJAY, mau pasang internet aja udah kayak mau nikah lagi. Gue dalam hati udah waduh-waduh aja sih, tapi akhirnya tetep lanjut berharap semua itu hanya mimpi. Selanjutnya, mbaknya bilang kalo proses registrasi gue akan segera diproses secepatnya maksimal seminggu dari waktu telepon.

Gue akhiri telfonan kita dengan kalimat "Terima kasih banyak, saya terbantu sekali" agar terkesan profesional serta hati mereka tersentuh. Siapa tahu kan beneran dipercepat.

3. Gak ribet kok!

Macam disamber geledek penuh bandwidth, besok siangnya sales kemarin langsung nelfon gue, minta kesediaan waktu untuk ngecek coverage area. Ya gue bolehin lah, wong kerjaan dia masa gue larang-larang. But, wow. That was really responsive.

Sales pun dateng berdua, dengan romantis mereka mengetuk serambi pintu gue. Mereka minta ijin untuk melakukan prosedur pertama yaitu ngukur seberapa jauh kabel fiber optic yang akan diolor dari tiang listrik sampe ke rumah gue. Gue ampe bingung mau muji tuhan yang mana, yang jelas semuanya ternyata masih memungkinkan. Fiuh.

Proses-proses berkas yang ribet di telfon tadi pun ternyata gak terealisasi. Sales-sales yang baik hati ini bersedia untuk mengerti serta mempermudah proses pemasangan. Karena kayaknya si CS dan Sales ada di divisi yang berbeda deh. Untuk memperlancar proses, sebaiknya sih kamu ke ATM dulu sebelum hari H biar ada stok cash.


Seluruh proses memakan waktu sekitar 3 jam. Gue langganan paket yang paling murah. Hanya untuk jaga-jaga aja karena biasanya pas upgrade gampang, eh downgrade dipersulit, yakni sekitar Rp. 330.000/Up to 10 Mbps (dikali 1000/8) plus biaya administrasi instalasi Rp. 125.000. Tapi setelah dua bulan harganya jadi fix sekitar 400 ribu (?)
Gimana hasilnya?
Hasil yang didapat lebih dari yang diperkirakan. Sering mentok hingga 1 Megabyte per detik jika hanya ada satu smartphone yang connect. Kalo di laptop, kecepatan rata-rata download dan peer-to-peer sekitar 360-560Kb/detik per koneksi.

Jika kamu ingin berhenti berlangganan, tinggal copot aja routernya dan dibungkus ulang yang rapi, bawa ke kantor Plasa Telkom dengan membawa nomor pelanggan yang tertera di bon/invoice.

Gue lega banget karena ternyata gak seribet yang dibayangkan, akhirnya kami pun kembali menjadi manusia modern yang masih bisa makan beras.

Ada pertanyaan? Boleh tinggalin di kolom komentar, dan jangan lupa subscribe blog ini jika kamu suka dengan kontennya biar gue lebih rajin sharing \o/