40 Deep Questions To Ask 
If You Really Want To Get To Know Someone

Hey it's me again!

Seluruh post ini sebenernya hanya sekedar trivia, semacam di tahun 2018 ini udah sejauh mana sih gue kenal dengan diri sendiri. Jika kamu memutuskan untuk terus baca, kemungkinan besar kamu bakalan tahu sedikit potongan-potongan hidup gue selama ini :)

1. What’s your philosophy in life?
Di ritme ibukota yang temponya serba cepat ini, sulit rasanya bergantung pada satu atau beberapa prinsip, apalagi filosofi. Kagak gajian kalo cuma pake filosofi :))

2. What’s the one thing you would like to change about yourself?
Buanyaaak! Hahahaha, selama kita masih jadi manusia, siapa sih yang gak pingin jadi orang lain? Tapi sejauh ini gue cukup puas sama pencapaian diri sendiri walaupun masih aja socially awkward. Oopps, yeah. Kalo bisa sih pingin less-socially awkward. Jadi extrovert sehari dengan energi berlimpah dan tetiba jadi supel ke semua orang bisa jadi sesi bermimpi yang menyenangkan.

3. Are you religious or spiritual?
Semenjak melihat begitu banyak perpecahan karena identitas di Indonesia, gue nggak lagi percaya dengan pandangan relijius yang melupakan nalar logikanya sebagai manusia. Karena kalo tujuan seseorang menjadi relijius itu untuk mencapai tingkat spiritual yang lebih baik, tanpa perlu teriak-teriak membela sana-sini pun hasilnya udah bisa terlihat dengan jelas di mata orang lain. Selama ini gue beragama hanya untuk mempermudah urusan sipil & kependudukan.

4. Do you consider yourself an introvert or an extrovert?
Introvert, indeed. Berkerumun (dan biasanya being fake) di dalam kerumunan banyak orang bener-bener menghabiskan energi gue dalam sekejap. Gue juga bisanya aksi-aksi aja, jarang bisa ngomong kecuali sama orang yang gue percaya, yang gue tahu dengan pasti mereka akan mendengarkan gue sampe habis. I'm a geek, and detail oriented person, jadi gue akan cerita sampe detail, kecuali orang tersebut hanya ingin basa-basi permukaan, I think it's kinda wasting time nonetheless.

5. Which parent are you closer to and why?
My father. Because men are straight-minded and less-dramatic.
6. What was the best phase in your life?
When I finally found out that I'm not that invisible.

7. What was the worst phase in your life?
Being helpless to my siblings.

8. Is what you’re doing now what you always wanted to do growing up?
Precisely not, I always want to be a president suatu country.

9. What makes you feel accomplished?
When my prediction exceeds my expectations about certain things.

10. What’s your favorite book/movie of all time and why did it speak to you so much?
Books doesn't always impress me. Tapi gue selalu suka koleksi majalah, buku-buku visual dictionary, dan cerita-cerita tokoh penting di dunia. Satu buku yang selalu gue inget adalah buku 100 Tokoh dari Michael H.Hart.

11. What is a relationship deal breaker for you?
Saat kamu temukan banyak perbedaan, tapi justru nggak banyak yang harus dikompromikan, it's a good deal.

12. Are you more into looks or brains?
Brain lah yaa. Biar seksih.

13. Would you ever take back someone who cheated?
Absolutely not. If cheating is the case, then I'm not a second chance believer.

14. How do you feel about sharing your password with your partner?
Suka insekyur sih, kayak ngasih ginjal gitu lho. Punya dua kayaknya gak berasa butuh, pas dikasih kok kayak ada yang ilang.

15. When do you think a person is ready for marriage?
Tentu saat dia udah kenal dengan dirinya sendiri. It's the very core of  relationship. Kalo seseorang udah rajin introspeksi thus kenal dengan dirinya, mengukur ekspektasi serta menjaga kebahagiaan diri sendiri dan orang lain bukanlah masalah besar.

16. What kind of parent do you think you will be?
The permisive one, I'm afraid. Gue dibesarkan di jaman yang seluruhnya open dan serba harus dirasain sendiri. Takutnya kebiasaan ini keterusan :(

17. What would you do if your parents didn’t like your partner?
Tell them this: Masa orangtua nggak bahagia ngeliat anaknya bahagia? Note: only if that person really makes you happy, in the right way.


18. Who is that one person you can talk to about just anything?
Keliru pertanyaannya. Mau ngomong apa aja sama semua orang itu hal gampang, yang susah itu nyari yang beneran mau mendengarkan.

19. Do you usually stay friends with your exes?
Nggak, karena biasanya selalu berakhir dengan cara yang menyebalkan :))

20. Have you ever lost someone close to you?
Many of them. I'm not so good at approaching for the sake of maintaining communication. Gue akan belajar lagi.

21. If you are in a bad mood, do you prefer to be left alone or have someone to cheer you up?
If it a stranger, just fuck off. Kalo orang itu gue kenal, there is always an empty seat for you.

22. What’s an ideal weekend for you?
Saat lo bisa ngabisin duit hasil kerja lo dengan semena-mena, replenishing your energy for another pay-day.

23. What do you think of best friends of the opposite sex?
Rarely happens, apalagi di Indonesia ya. Meski memungkinkan, tapi kadang gak bisa bohongin perasaan kalo lagi nahan diri. Nggak, ini bukan curhat.

24. Do you judge a book by its cover?
Betul. Saya mudah termakan gimmick.

25. Are you confrontational?
Not always. Biasanya gue mundur kalo sedang menghadapi kebodohan. I just can't bear it cause there's no cure in stupidity in Indonesia.

26. When was the last time you broke someone’s heart?
Hmmmm kapan yaaaaaaaaaaa, masalahnya gue tahu dari mana kalo dia broken? Wong nggak ngaku, tau-tau pergi.

27. Would you relocate for love?
Tergantung ongkos.

28. Did you ever write a journal?
I did! Gue bahkan punya dua binder yang isinya clipping musik dan testimoni soal diri gue semasa sekolah. Macam perempuan aja gue ini.

29. What are you most thankful for?
Gue selalu bersyukur masih dikasih waktu untuk melakukan sesuatu. Apapun itu. Time is God, man.
 
30. Do you believe in second chances?
Hah! I already told you a couple minutes ago.

31. What’s the one thing that people always misunderstand about you?
Gue sebenernya pingin jadi sumber kehebohan. Kayak ngerasa dihargai dan didengarkan gitu deh, but it barely happened. Gue itu orangnya kurang ekspresif dengan oral words. Padahal itu cara termudah untuk ngasih tahu representasi emosi yekan, tapi juga cara termudah untuk bikin orang salah mengerti. Yang ngeselinnya lagi, orang jaman sekarang itu entah kenapa cepet banget nge-judge orang, tanpa ada keinginan untuk kenal lebih dekat. That's unfair for me. If the case is a professional case, not a personal,  I'll take it. But if you blend those two things, sigh you just can't understand introvert in one day.

32. What is your idea of a perfect vacation?
Saat lo buang duit banyak saat liburan, lalu pas pulang ternyata duitnya masih sisa banyak di luar ekspektasi. 

33. What did your past relationship teach you?
That I always deserve better.

34. What are your thoughts on online dating or tinder?
It's good for wasting time and get your thumb busy. But relationship is not only about finding matches. it's about quality. Ciaaah gitu.

35. What’s on your bucket list this year?
I want to take my wife to a lot of vacation. She deserve it.

36. When have you felt your biggest adrenaline rush?
When I listen to Babymetal & Maximum The Hormone's songs, they will make you stay young forever.

37. What is the craziest thing you’ve ever done and would you do it again?
Gue sebenernya selalu pingin bisa begitu, tapi gak pernah ketemu partner yang sama gilanya :)

38. If a genie granted you 3 wishes right now, what would you wish for?
1. Ask for another 1000 wishes. 2. Waiting the 999 wishes expired. 3. Ask for another 1000 Wishes. Like really, why the hell you want the genie grant you three wishes only?

39. What’s your biggest regret in life?
Knowing that people lives only for dead in the end. Karena banyak orang yang kehabisan waktu untuk introspeksi tanpa sempat berkarya. Berkarya is the key for immortality.

40. What do you think about when you’re by yourself?
Is this your final question? So boring! Gue orangnya jarang bengong, I always do something or sleeping.



Semua pertanyaan dan gambar dikutip dari:
Warning: This game is mostly known for its annoying bug that usually occurs at the seasonal rank-reset. The developer still have no idea how to deal with it.
Ceritanya, sekitar tanggal 25 Januari 2018 lalu, gue kehilangan seluruh progress permainan Dead by Daylight gue setelah main 124 jam lamanya. Kejadiannya sih saat ranking reset dan gue tetiba disconnected ditengah antrian di lobby. Tanpa pikir panjang ya gue keluar game aja, lalu login aja seperti biasa.

Setelah logged in, gue dihadapkan dengan agreement EULA yang seumur-umur gue gak pernah dapet, berasa abis nge-cheat aja gitu. Gue OK-in, dan taraaaaaa, semua point dan level ke-reset jadi NOL. After I paid all of your DLC and spending precious hours, this is how you repay me?

KZL banget waktu itu. Karena gue nggak tahu menahu kalo ternyata bug ini udah sangat umum di kalangan komunitas dengan topik Dead by Daylight LOP (Lost of Progress).

Jadi, kalo lo nyasar ke post ini di saat progress game lo masih baik-baik aja, lo termasuk salah satu pemain yang beruntung. Karena umumnya nggak ada yang tahu kalo ada bug ini eksis, sebelum akhirnya mereka terlanjur kehilangan save data.  So, how do we prepare for this?

Lo masih di tengah permainan?

Jika lo masih di dalam game, lalu tetiba disconnected tanpa alasan yang jelas kayak gue tadi, ada kemungkinan lo main di tengah-tengah rank-reset atau update patch terbaru. Tapi whatever the reason, lo tetep pingin jaga-jaga kan? Caranya adalah dengan 'mengakali' Steam Cloud biar nggak ngerekam state terakhir game lo.  Gini tahapannya:

1. Jangan buru-buru KELUAR dari game, stay in the game!
2. Matiin Steam Cloud, klik: library > dbdl  > properties > update > steam cloud
3. Tutup/keluar dari game
4. Hapus folder 381210 di tempat lo install Steam. Lokasi default ada di:
C:\Program Files (x86)\Steam\userdata\YOUR_ID_NUMBER_HERE\381210

5. Nyalain lagi Steam Cloud tadi, lalu tutup/end task seluruh layanan Steam yang lagi jalan.
6. Sekarang buka lagi Steam lo dan jalanin DBD. Di titik ini, harusnya lo udah dapet save-an terakhir dari Steam Cloud sebelum lo disconnected.

Terlanjur apes : Semua data hilang

Kalo udah terlanjur sial, satu-satunya harapan adalah kirim e-mail ke Behaviour Developer. Begini tahapannya:

1. Ganti setting privasi akun steam lo ke 'Public', biar makin mempermudah pengecekan.
2. Buka e-mail (yang terdaftar di akun steam lo), ketik tujuan e-mail ke: deadbydaylight@bhvr.com
3. Tulis subject : LOP (Loss of Progress), lalu cantumkan di body e-mail URL Steam Profile lo. Ex: http://steamcommunity.com/id/yoururlprofile

Demi memperbesar kemungkinan dibaca tim developer, kasih drama dikit lah ...

4. Cantumkan juga Player ID Dead by Daylight lo yang bisa lo temukan di in-game setting menu di bagian pojok kiri bawah. Jangan lupa lampirkan screenshotnya dalam bentuk attachment.


5. Langsung kirim! Lalu tunggu balesan dari developer. Nggak perlu nge-spam e-mail karena kayaknya setiap LOP complaint akan langsung masuk antrian. So, be patient!


Kalo di kasus gue, butuh genap 15 hari untuk ngedapetin refund berupa 7.300.000 bloodpoints dari developer. Walaupun sempet kzl dan sedy-sedy, yaaa akhirnya semangat main lagi deh! Subscribe kalo lo suka sama post ini, dan feel free to comment!

                                                                                                   ***

Berikut referensi thread lengkap seputar Dead by Daylight LOP yang bisa lo ceki-ceki:

What to do guide by Soppa

Save data lost support by bhvr_pgordon

Backing-up save games by bhvr_sbdaniel


Dead by Daylight is an asymmetrical multiplayer (4vs1) horror game where one player takes on the role of the savage Killer, and the other four players play as Survivors, trying to escape the Killer and avoid being caught and killed.
Hey, it's me again! 

Dulu gue takut banget sama yang namanya game-game jump scare horror. Setelah seminggu main game ini, uwaw penyakitku hilang! Dulu main Resident Evil 6 saking takutnya bisa ampe mencret-mencret. Kalo sekarang? Widiiiiih berak biasa. Hahahaha

Belom sampe situ, dulu gue gagap banget main game dengan kontrol gerakan WASD. Setelah sebulan main game ini, UWAW JUKING GUE BUSUK BANGET hahahahahahaha!

Walau juking (nge-gocek) memang masih busuk, sekarang gue udah lebih luwes bergerak pake WASD, terus mata juga lebih awas, pedes aja palingan :)

Anyway...

Berhubung udah banyak blogger/gamer indonesia yang nge-review game ini, mungkin gue bakalan lebih ke sharing insight aja ya. Jadi, setelah bermodalkan 86 hours of playing, apa aja yang udah gue pelajari?
I play mainly as killer, so .. yeah ...
Perdebatan abadi antara Killer & Survivor : Should You Camp?

Hanya dengan satu topik tersebut, game ini sukses menghasilkan gamer-gamer toxic yang luar biasa banyaknya. Nggak yang Jakarta, nggak yang luar negeri, yang namanya toxic kayaknya emang bersumber dari Asia ya?

Belum lagi match-making yang sama busuknya dengan kebiasaan playernya, tabiat saling pengertian sangat sulit ditemukan di game ini. Buat gue, perdebatan ini sama halnya dengan ngomongin duluan mana ayam atau telor; nggak ada ujungnya.

Jadi wahai para killer, haruskah kalian camping? Jawabannya adalah tergantung perspektifnya. Killer tersebut nyari bloodpoint atau nyari kill?

Kalau ternyata killer tersebut nyari bloodpoint, berikut manfaat yang player dapatkan:
1. Kamu pasti lebih disukai para survivor karena memberikan game yang less-boring dan berdurasi lama dengan nggak nungguin hooked survivor.

2. Karena sumber poin terbesar Killer adalah dari hooking survivor, dengan perspektif ini, kesempatan untuk mendapatkan lebih banyak bloodpoint jadi terbilang besar. Berhubung kamu nggak camping, secara langsung kamu juga memberikan kesempatan para survivor untuk menyelamatkan temannya, agar nanti bisa kamu hook lagi, dan berarti poin lagi! Yay!

Jadi, kalo Killer hanya nyari kill doang, apa salah? Ya nggak juga, tapi secara nggak langsung poin yang didapatkan oleh survivor juga lebih sedikit akibat minimnya unhook bonus. Tapi sekali lagi, kesenangan itu kan subjektif. Mungkin dia senang aja bunuh-bunuh tanpa dapet poin, doesn't matter.

Mungkin survivor harus rela bersedih karena minim unhook bonus, tapi ya manfaatkan kesempatan killer-camp ini untuk ngebabat habis generator. Dalam sekali durasi hook dan killernya camping, kamu bisa dapet 2-3 generator, lho.Yang mana kalo jadi killer, sebenernya rugi banget karena banyak ngebuang waktu untuk camping satu survivor. So, choose wisely, nggak perlu diperdebatkan.

Di sisi lain ...

Killer itu paling benci sama para tea-baggers (gerakan jongkok-berdiri berulang-ulang di depan exit gate, dengan tujuan membuang-buang waktu killer) yang sebenernya lebih oke untuk diperdebatkan. I mean, why you all doing this? Dapet bonus juga nggak, kesel iya.
How to Counter This?
Walaupun developer sebenernya udah banyak disemprot soal isu-isu ini, gue masih punya beberapa cara untuk mengurangi kebiasaan toxic yang ada di Dead By Daylight. Yaitu:

1. "Swift Escape" bonus sebanyak 10.000 bloodpoint atau semacamnya lah. Yaitu poin tambahan yang akan didapat survivor jika dia memasuki gate exit lalu escape selama kurang lebih 3 detik. Lewat dari itu, ya nggak dapet. Nah, gue yakin ini efektif banget buat membasmi para tea-baggers. Siapa sih yang nggak mau 10.000 bloodpoints dengan segitu gampangnya?

2. Di sisi killer, bisa dikasih semacam "Camp Penalty", yaitu semacam bonus speed boost untuk survivor saat repair generator, cleansing totem, dan mempercepat proses unhook saat killer mutusin untuk camping. Waaaaah, gue yakin killer kapok untuk camping. Game jadi lebih balance karena bloodpoint makin adil untuk semuanya.

3. Sayangnya memang gak ada cara yang efektif selain melibatkan developer. Tapi sementara ini, gue selalu menghadapi para tea-baggers dengan: Diemin aja. Hahahaha, cara ini efektif kalo lo pake invisible killer kayak Freddy atau The Wraith. Caranya, lo deketin exit gate, tapi dibalik tembok atau di luar, Biarin aja mereka deg-degan sambil jongkak-jongkok sampe bosen. Yang penting, mereka gak tahu posisi lo. Intinya, jangan kasih seneng :)
Tentang Teachable Perk
Begitu lo dapetin salah satu teachable perk dari killer mana pun, perk tersebut juga akan muncul  dan bisa dipake di killer lainnya. Tapi kayaknya level teachable perk ini cuma ada dalam versi tier I ya? CMIIW. Teachable Perk ini selain unlock via blood-web, juga bisa dibeli di Shrine of Secrets dengan memakai Iridescent Shard seharga 550-750.

Shard ini bisa didapatkan saat main game dan dihitung per menit; 1 menit = 1 shard. Jadi untuk bisa beli satu teachable perk seharga 550 di shrine, kamu perlu main sekitar 50 kali dengan durasi permainan 10 menit per game.

Oke, karena gue seringnya main killer, yang harus lo lakukan adalah menentukan perk dari killer mana yang paling bagus untuk didapetin. Maksud gue, ternyata nggak semua perk itu berguna dan bisa cocok untuk semua killer. Untuk hisa menentukan perk mana yang berguna, mungkin bisa lo pertimbangin dari sisi playstyle, atau kebutuhan dasar dari killer. Sebenernya apa sih yang paling dibutuhin setiap killer?

1. ABILITY TO DEAL WITH PALLETS - Level up your TRAPPER

Trapper ini, selain menjadi ikonnya DBD, ternyata memang punya teachable perk yang wajib dikumpulin, yaitu Brutal Strength dan Agitation.


2. TRACKING SURVIVOR EFFICIENTLY

Dengan map seluas DBD, pastinya gemes dong kalo udah keliling lapangan 10 menit lalu panik gak nemu survivor dan generator nyisa satu? Yes, tracking ability is a must. Kalo kamu selalu tahu di mana posisi survivor, kiamat udah. Survivor susah kabur, susah repair, dan pastinya susah menang. Setelah TRAPPER, investasikan bloodpoint lo ke NURSE & LEATHERFACE. Karena mereka berdua punya tracking ability yang sangat lo perluin:


Atau jika masih kurang lengkap, bisa lo tambahin dengan BLOODHOUND (The Wraith) dan WHISPER.


3. STEALTH ABILITY

Kemampuan terakhir biar killer lo makin "GG" adalah anti-deteksi atau meminimalisir terror radius/hearthbeat. Karena lo gak akan bisa kill siapa-siapa kan kalo keberadaan lo selalu ketahuan? Teachable Perk yang berguna untuk ini adalah MONITOR & ABUSE dari The Doctor & INSIDIOUS - gue selalu pake ini kalo main Michael Myers :)


Tapi memang untuk INSIDIOUS jarang menjadi pilihan karena killer biasanya cenderung untuk memilih camping. Tapi buat gue perk ini under-rated sih, karena selalu gue pake untuk bikin bingung survivor. Bikin mereka jadi ragu-ragu yang akhirnya repair generator jadi banyak tertunda. More time for the killers!
Some Useful tips

Di bagian akhir, mungkin gue mau share beberapa insight saat gue pake killer. Agar tabungan bloodpoint lo efektif, kayaknya akan lebih baik lo nentuin killer mana yang akan lo investasikan untuk ngumpulin bloodpoint. Killer ini harus yang paling enak dipake tanpa teachable perk. Kalo gue sih:

1. KILLER STRATEGY (THE NIGHTMARE - FREDDY KRUEGER)

Kelebihan Freddy itu kayaknya ada di speed ya. Sejauh ini asik-asik aja tanpa mandatory teachable perk. Sayangnya kemampuan deteksi Freddy hanya aktif kalo di luar terror radius, jadi Freddy harus 'nandain' sebanyak-banyaknya survivor dan cepet-cepet colok di hook. Nah, biasanya kesempatan ini datang pas survivor mutusin untuk nyelametin temennya.

Manfaatin sesi unhook ini untuk nandain survivor yang ada. Yaaa camping dikit gak papa lah. Perk bawaan dari Freddy udah cukup oke kok. Preset non-teachable gue biasanya: Whisper, Remember Me, Blood Warden, Fire Up.

2. KILLER STRATEGY (THE SHAPE - MICHAEL MYERS) (Coming soon)
3. KILLER STRATEGY (THE TRAPPER) (Coming soon)



Thumbnail from
http://media.moddb.com/images/games/1/53/52481/Deluxe_edition_artwork.jpg

Hey, it's me again!

So, it's almost two years I use Xiaomi device as my daily driver.

Pertama kali Xiaomi Redmi Note 2 rilis, gue langsung jatuh cinta gara-gara gaming-processor Helio X10 yang diusungnya waktu itu, karena notabene belum ada smartphone lain yang berani pake di jamannya. Seketika itu juga, langsung buka Youtube, download belasan reviewnya, dan semedi untuk memantapkan hati.

Dari segi model oke, harga oke, RAM oke, spek oke, dan kameranya pun lumayan. Detik itu juga,  gue semakin yakin ini adalah smartphone yang tepat untuk mobilitas gue sehari-hari.

Hari-hari pun berlalu, gak berasa udah dua tahun gue bareng terus sama hape ini. Sampe tiba masanya, sekitar tiga hari lalu, barang ini kok rasanya mulai bikin gue jengkel.

Ceritanya gue lagi in-door livetweet, di tempat yang sebenernya cukup-cukup aja cahayanya meski sumbernya dari lampu. Tempatnya hall gede gitu, objek yang jadi tantangan di situ hanyalah hamparan pengunjung, dan LCD screen super gede.

Gue pun mulai jeprat-jepret di berbagai angle, lalu gue cek di gallery, kok fotonya semakin memprihatinkan kalo dipake di area in-door. Hasilnya relatif blurry, detail yang boro-boro, dan berkesan ngelawan cahaya. Gue berkesimpulan, bahwa kilatan cahaya dari LCD screen ini juga memperburuk performa sensor kamera yang sepertinya emang mulai menurun.

News flash sedikit, keadaan Redmi Note 2 gue ini rasanya emang lagi turun2nya. Gak cuma soal hasil kamera, yakni ada beberapa masalah lain sepertinya punya reaksi berantai satu sama lain:

1. Performa gaming mulai banyak frame-drop/frame-skip, khususnya saat main game yang tadinya fine-fine aja seperti Vainglory, Mobile Legend, Civ Revolution, Get Rich dan Yugi Oh Duel Links.

2. Udah sebulanan, internal storagenya selalu merongrong minta dikosongin alias terus-terusan ngasih notif bahwa space mulai habis. Pas dicek di PC, emang bener hanya tinggal 180 MB. Tapi begitu di-clean-up, entah kenapa masalah yang sama kembali berulang.

3. Multi-tasking mulai laggy. Buka Google Chrome selalu diselingi force-close sekitar dua sampe tiga kali, setelahnya relatif lancar.

Gizbot.com
Di hari yang sama, sebelum berangkat gue juga sengaja minjem smartphone istri yang sialnya kebetulan Xiaomi juga, yaitu seri kakaknya; Redmi Note 4. Karena dari rumah roman-roman perasaan gue udah gak enak, rasanya kok gue perlu bawa cadangan hape hari ini.

Setelah meratapi hasil foto yang kualitasnya makin kayak cumi asin ini, gue keluarin lah si Note 4 sambil berbisik pelan ke telinganya speakernya:
Aku mengandalkanmu ...
Dia pun menjawab "iya, mas", sambil seraya mengibaskan selendang dan terbang meninggalkan gue menuju salah satu gedung Bakrie. #LHA #TERNYATASETAN #INIAPASIH

Mari kembali ke livetweet.

Gue keluarin lah si Redmi Note 4, gue klik kamera, dan .................. MATOT! Like seriously???????? Dia mati begitu aja dong, booting di suasana bikin idung megap-megap karena takut momen lewat. Gue coba ngurut dada, eeeh dia marah. #TernyataDadaSatpam

Gue tungguin aja 3 menit, dan diaaa ............... MATI LAGI! Ini brengsek banget sih, entah berapa kali gue ngomong ANJAY kayak orang lagi yasinan. Pas gue cek selang semenit, hape ini gak kunjung masuk ke home-screen. Gue pasrah.
Ternyata dia Bootloop ...
Sesampai di rumah, gue konsultasi (gak deng, marah-marah tepatnya) baik-baik sama istri soal pengalaman hari ini. Ternyata, tabiat terkutuk itu emang kerap muncul jika smartphone tersebut gak dimasukin sim-card.

Batin gue, gilak fatal amat. Dari seantero masalah smartphone yang ada, boot-loop (kondisi di mana smartphone stuck di layar booting lalu restart lagi) gara-gara gak ada sim-card itu mungkin masuk ke list yang berapa riburiburiburibu ke bawah gitu. Jarang banget!

Tetiba gue jadi flashback. Sebelum megang dua smartphone ini, kita berdua sempet pake Mi4i buat daily-driver. Kita sempet suka banget, hapenya kecil, sleek, bersih, berkesan premium, dan kameranya bagus banget. Paling nggak, kepadatan pixelnya bener-bener mencukupi kebutuhan kita dalam hal jepret-jepret cantik.

Hampir setahun kita pake, kita sempet ngeh kalo hasil fotonya belakangan ini kok gak lagi sama seperti saat pertama kali beli. Kita sampe nyempetin bandingin foto lama dan foto baru ini, dan bener. Kualitasnya menurun. Apakah karena update software berkala? Atau karena ketahanan sensor, atau kualitas sensor Sony yang Xiaomi pake? Nobody knows.

Kasus ini diabaikan berhubung seminggu kemudian, hape ini accidentally jatoh karena kesenggol dan layarnya pecah. Mengingat deadline yang waktu itu lagi padat-padatnya, kita gak begitu ambil pusing dan langsung nyari hape lain sebagai pengganti.

Berbekal dengan seluruh kejadian dan pengalaman ini, gue semakin mantap, I can't rely to this thing anymore.
The following decision of choice is a huge stepping stone for me, because I decide to get a new, expensively pain-in-the-ass branded phone. An iPhone.
Gue itu, orangnya suka ngulik, kalo penasaran harus dituntasin sampe ujung, dan biasanya harus selesai hari itu juga saking ngototnya. Ya kalo ada waktu aja sih, tapi dengan era keterbukaan informasi kayak sekarang ini, most likely kita selalu bisa nuntasin rasa penasaran hanya dalam hitungan beberapa jam.
Dulu waktu mau beli Xiaomi atau barang apa pun, pola riset yang gue terapkan selalu sama sih.

1. Riset dasar: Perkaya wawasan soal barang tersebut.

Youtube is the best place to research. Karena nyari pembanding secara visual itu lebih enak daripada baca puluhan artikel sambil ngebayang-bayangin. Jadi, gue kumpulin belasan video dari sumber yang gue tahu reliable & udah terkenal reputasinya. Lalu catet poin penting yang dirasa bisa berpengaruh dalam decision-making.

2. Coba cek testimoni terkait barang tersebut di forum-forum, atau di Youtube juga bisa.
3. Gue selalu cek harga di berbagai toko online terkemuka sebagai ancer-ancer, hanya sekedar biar gak kaget atau ngerasa ditipu karena gap harga. Gue jarang beli online, prefer offline karena selain bisa cuci mata, bisa sekalian ngobrol-ngobrol di store :)

4. Cek kembali hasil compile-an yang udah dibuat, lalu mantapkan hati. Kuncinya, bukan apa aja kelebihan barang tersebut, tapi apakah kekurangan barang tersebut bisa lo terima. Kalo udah mantap, hajar!

Karena sebelumnya gue termasuk dalam jajaran #MendingXiaomi, keputusan ini tentu lahir dengan banyak pertimbangan, selain omelan istri tentunya, he he he he.

Berbekal kepahitan sebelumnya, faktor terkuat yang mempengaruhi keputusan pastinya soal kamera. Kedua, adalah multi-tasking. Dengan OS yang super-stabil, gue belum pernah ngerasain enaknya scroll-swipe-scroll dan berpindah aplikasi satu ke yang lain se-fluid di iPhone.
Di antara hape branded lain, kenapa gue akhirnya hijrah memilih iPhone?
Untuk itu, gue punya beberapa pertimbangan subjektif:

Kenapa bukan Sony?
Gue suka produk-produk Sony, khususnya yang ada hubungannya sama permusikan. Smartphone-nya mereka pun keren, berani beda, dengan desain kotak edgy-nya dan kustomisasi UI yang beda, mereka tetap bersaing dan bertahan sampe sekarang. Hanya aja, gue kurang familiar dan sama sekali gak berpengalaman dengan smartphone Sony. Sekali pun belum pernah megang atau pun swipe-swipe hape mereka yang bernama Xperia itu lho. Jadi ya gue coret.

Kenapa bukan LG?
Simple, walaupun pake stock android, UX/UI-nya mirip-mirip dengan sebagian besar hape cina jaman sekarang. Ngebayanginnya aja, gue udah boring duluan hahahaha.

Kenapa bukan Samsung?
Semua produknya identik! Emang sih S-Pen nya keren, tapi rasanya saat ini belom kepake-pake banget gitu. Selain alasan tersebut, gue gak tahu mau ngapain lagi dengan Samsung beserta UI-nya. Inovasi yang mereka bikin lebih mengarah ke gimmick dan beberapa minor refinements.

Source
Praktisnya, alasan kenapa gue pilih iPhone adalah karena faktor reliability. Punya rasa aman karena reputasi/kualitas serta kinerja produknya yang udah terkenal di seluruh dunia, is one of a good investment. 

Sekarang aja, masih banyak banget lho yang ngeburu iPhone second-ori kayak seri iPhone 4/iPhone 5 dan kinerjanya masih bisa menyaingi kinerja hape keluaran tahun kemarin. Keren gak sih, selalu butuh waktu lama dari setiap (spesifikasi) seri iPhone untuk jadi obsolete atau basi.

Saking seringnya ngikutin review-review smartphone yang beredar saat ini, gue semacam mulai ngerti gimana cara masing-masing brand berkompetisi satu sama lain memasarkan barangnya agar disukai publik, yang mana juga mempengaruhi pandangan/pilihan kita pada suatu produk smartphone.
Pernah penasaran kenapa hape branded selalu lebih mahal?
Untuk mempermudah bahasan ini, biasanya gue selalu mengkotak-kotakan beberapa merk smartphone ke dalam dua kategori, yaitu hape cina/hape keluaran perusahaan baru (Xiaomi, Oppo, Smartfren, Lenovo Vivo, HTC) dan hape branded/penguasa pasar/pemain lama (Sony, Samsung, LG, Apple).

Source
Alasannya adalah: karena riset & budget iklan. 

Di atas kertas, gue beranggapan Apple & Samsung adalah pemain lama, otomatis riset yang udah mereka lakukan ke produk mereka juga pastinya lebih matang, sehingga menghasilkan produk yang bagus juga. Tapi melengkapi itu semua, barang bagus tanpa marketing bagus juga pasti zonk abis.

Terus kenapa hape cina dengan spesifikasi identik bisa dijual lebih murah? Atau lebih tepatnya, apa yang mereka lakukan untuk menekan harga? Banyak banget!

Selain budget promosi yg dipangkas, "gimmick" rilisan spesifikasi terbaru masih menjadi strategi jitu. Downside-nya, ya barang dengan spesifikasi tersebut belum banyak yang pakai. Dengan kata lain, masih minim riset. Suhu hape panas, hasil jepretan ala-ala canvas, baterai berdaya raksasa tapi bocor setengah hari, adalah salah satu contoh minimnya riset.

Mari kita ambil contoh asal produk Xiaomi dengan RAM 6 GB dengan prosesor Snapdragon terbaru quad-core 835. Spek ini jelas unggul di atas kertas. Tapi gimana dengan penampakan aslinya? Udah jadi rahasia umum kalo Xiaomi boros RAM gara-gara MIUI-nya. Alhasil, RAM 6 GB jadi tinggal 3 GB aja. Sementara iPhone, RAM gak usah gede-gede, 3 GB aja, core gak usah banyak-banyak, dual core aja.  Believe it or not, performanya bisa sama lancar dengan Xiaomi dengan RAM 6 GB dengan harga yang terpaut jauh. Kok bisa? Ya, karena perbedaan waktu riset.

Itulah strategi marketing. Ujungnya, akan kembali ke daya beli customer untuk menemukan yang cocok, karena pasar hanya menyediakan beragam pilihan.

Cheers!



Thumbnail:

Hey it's me again!

Kalau kita udah mulai ngomongin film Thailand, mereka emang gila sih.

Dulu gue pernah nonton Ong Bak, dari awal beli popcorn ampe film abis, itu cemilan gak kemakan saking deg-degannya dan distraksi horror yang intense di film kampret itu.

Start dari situ, gue sadar bahwa para film-maker Thailand gak bisa dianggap remeh, perlahan-lahan mereka mulai merangkak naik loh. Apakah mereka ingin menghabisi dinasti Bollywood?? HHAHAHA
kembali ke Bad Genius ....
Menurut gue, film ini bisa dibilang satu-satunya film terbaik sejauh yang gue tonton di sepanjang tahun 2017 ini. Bahkan film-filmnya Marvel aja lewat? I can say yes! Yatapi ngebandingin film ini sama Marvel emang nggak apple-to-apple, tapi since ini blog gue dan bisa ngomong seenak udel, marilah kita coba.

Marvel itu, ya bagus. Dari overall packaging aja gak mungkin orang gak suka film-filmnya Marvel. Dibikin penasaran, udah pasti. Dimanjain sama special effect dan teknologi green-screen yang aduhai, pastilah.

Lalu gimana review gue soal BAD GENIUS? Film ini justru gak muluk-muluk. Ambil aja konflik sederhana:
Curang itu tergantung dilihat dari mana. Who's agree?
source
Tokoh sentral di film ini; Lynn, si jago matematika yang sepertinya kalo lo tanya apa pun, dia pasti tahu jawabannya. Tapi walaupun pinter banget, kemampuan sosial Lynn nol besar. Sampe akhirnya di hari pertama pindahan sekolah, dia ketemu sama satu-satunya murid yang mau bertemen sama doi; Grace si tukang flirting. Ituuu lho yang mukanya mirip Maudy Ayunda.

Mulailah si Grace manfaatin soft spot Lynn; memohon agar Lynn mau bantu lulusin ujian dia. Muncullah stunt "Shoe & Eraser" yang super-keren di sini.

source
Udah mah tukang flirting, mulutnya ember. The perfect combo of Lambe Turah ini akhirnya tembus ke kuping Pat, anak tajir yang (entah kenapa mau) pacaran sama Grace, mengiming-imingi Lynn soal seberapa besar keuntungan yang bakal dia dapat kalo dia mau bantuin gengnya lulus ujian.

Terpojok keadaan finansial keluarga yang meresahkan, akhirnya Lynn setuju untuk menggadaikan isi otaknya untuk jadi "cheat-franchise". Tapi kali ini, mereka semua mulai bermain rapi.

Udah gak pake sepatu dan penghapus lagi, melainkan membuat suatu pola/formula pijitan not piano yang diwakili dengan jari, yang pengaplikasiannya mirip seperti kode morse. Ini keren gilak sih.

Sampe akhirnya Lynn ketemu lah dengan saingannya; Bank si murid baik-baik, pinter dan polos, mulai mengendus ketidak-beresan franchise yang lagi dikembangin Lynn. Nah, lho!
Cheating seems bad for business.
Lynn & Bank sebenernya sama-sama pinter, tapi punya satu perbedaan. Lynn ini dari lahir kayaknya emang udah jenius, sementara Bank pinter karena jago menghafal. Persamaannya, mereka sama-sama gak pandai menjalin pertemanan.

source
Lynn beruntung karena masih bisa sedikit opportunist, sementara Bank ini anaknya lurus banget. Sedih rasanya ketika Bank harus rela melunturkan seluruh prinsip hanya karena harus ikut 'aturan bermain', terpojok karena keadaan yang kurang beruntung.

Pasti sebagian besar dari kita pernah lah ngerasain drama tersebut pas jaman sekolah, membuat film ini makin berasa deket dengan keseharian dan real.

Menariknya, semua karakter yang ada di film ini sebenernya antagonis. Masing-masing dari mereka punya pokok permasalahan yang berbeda-beda, dengan motif dan rencana penyelesaian masalah yang berbeda-beda juga.

Orang yang sekelas Lynn, sang jago matematika pun, ternyata gak cukup pintar untuk menebak konsekuensi apa yang akan dihadapi dengan cheating business ini, dan meski dengan beberapa kali latihan, lynn cukup lihai berbohong, musuhnya hanyalah dirinya sendiri.

Sementara Bank meskipun pintar, harus rela dipukuli dan 'main kotor' karena terlalu naif.

Ekspansi dari konflik tersebut dikembangkan secara apik. Tentang bagaimana sebuah kepintaran diadu dengan harga masa depan, harga pertemanan, dan nasib keluarga.

Sampe akhirnya mereka sadar akan 'aturan bermain' yang eksis di dunia ini, di mana mereka mulai mempertanyakan fundamental belajar mereka :
Pinter aja gak cukup kalau gak bisa cari duit.
Konflik njelimet tersebut sukses dibungkus dengan aroma drama, script & teknik-teknik kamera minim special effect yang bikin kamu speechless. Kamu musti liat gimana sang kamera nge-shoot salah satu scene, di mana tangan lagi ngurek-ngurek pensil 2B di lembar jawaban.

Semua cast-nya juga gak kalah mantep, lucu-lucu hormonal ala-ala remaja, enerjik, dan digarap dengan angle kamera dari sudut pandang komikal yang bikin konflik di antara mereka makin lucu sekaligus menegangkan.

Semua porsi film digarap pas, dimulai dari pengenalan karakter dan konflik yang terungkap secara bertahap tapi gak ngasih kamu napas, lalu BOOM BOOM BOOM plotwist mulai bermunculan dengan delivery yang digarap sangat matang!

Gak perlu bikin film bersekuel dan special effect yang njelimet penuh hingar-bingar. Kasih aja kita konflik sederhana, simple, dekat dengan keseharian seolah kita pernah/mungkin aja ngerasain, dan teknik kamera serta cinematography yang kece.

Kalo soal satisfaction, gue rasa film ini adalah juaranya.  

Thumbnail:

Hey, it's me again!

Setiap tahunnya, gue selalu berusaha untuk menyempatkan diri buat bikin sedikit catatan di blog. Bukan buat pencapaian atau apa, tapi setiap rintisan kalimat di post ini, sehingga kalo tahun depan gue baca post ini lagi, seenggaknya gue bisa tahu state pikiran gue saat itu ada di mana dilihat dari cara menulisnya.

Kira-kira gitu sih, karena memang banyak yang gue lewatin di tahun ini. Bikin cara ngomong gue sekarang udah macam dosen pembimbing aja. *etaaa etaa terangkanlah *lalu dagang rujak

26,  was really tough for me. Semakin hari, kayak semakin tahu cara dunia/lingkungan ini gimana kerjanya, semakin tahu bahwa yang namanya kompetisi sebagai manusia akan selalu ada dan gak pernah berhenti. Terkait hal itu, modal yang sangat dibutuhin adalah sebuah konsistensi. Waini.

Konsistensi di umur segini, itu rasanya mulai hmm ... apa ya ... melelahkan? Hahaha.

26 adalah waktu-waktu kritis di mana passion kamu mulai memudar dikikis rutinitas. Sampe akhirnya, lama-kelamaan kamu nggak akan berasa bahwa dua hal yang berbeda batasan tersebut, mulai ngeblur menjadi satu lalu kamu anggap bahwa passion kamu itu, yaaa rutinitas. Ada yang berasa juga mungkin?

Rutinitas, biasanya kamu lakukan karena kewajiban. Kalo emang passion, pasti ya harusnya rutin. Tapi sesuatu yang dikerjakan secara rutin, belum tentu sebuah passion. Eaaa gimana cobaa :))

26 adalah waktu-waktu di mana kamu mulai malas keluar gara-gara baru jadi penganten baru. Kalo gue sih, gak cuma jadwal ena-ena-nya aja yang bikin mager, tapi ini lho, gue dari awal kayak serasa kematengan gitu, baru tahun pertama udah mikirin gimana cara maintain rumah tangga. Orang mah kayaknya lepas aja gitu. Ya gak sih?

26 adalah adalah waktu-waktu di mana kamu galau "kapan nih nambah member" di rumah. Yaaa terpaan norma sosial sih selalu ada ya, meski kadang suka jadi pikiran, tapi gue gak ambil pusing sih.

Abis gimana ya, celetukan asal itu kadang emang selalu datang dari orang yang kurang pendidikannya, gak tahu caranya memilih topik untuk berbasa basi, dan kita juga salah kalau menyalahkan dia karena ketidaksopanannya.

Toh, dia juga gak ngerti itu ternyata jauh dari kata sopan. Enaknya sih, ya jarang-jarangin aja bersinggungan sama orang yang kamu tahu tipikalnya seperti itu. Kemungkinan juga, dia tuh jarang gaul. Dia nggak tahu tuh pergolakan jaman sekarang kayak gimana, norma-norma apa yang mulai terkikis dan disesuaikan dengan keadaan sekarang, serta pakem baru apa yang udah lahir dan diterapkan. Sehingga pas tahu ada pakem yang menurut dia agak "melenceng", kagetnya bukan main, lalu judgment akan sangat lancar dimuntahkan begitu aja, bodo amat mau kenal atau nggak.

Solusinya, bukan lantas menjadi anti sosial gara-gara mutusin untuk jarang bersinggungan, tapi buatlah dia sungkan dengan kamu. Bisa dalam bentuk memberikan bantuan (sebisanya aja), menegur sekedarnya setiap ketemu sambil senyum, atau kalo dia ngajak ngobrol sebuah topik, keluarkan retorika terbaik kamu biar dia paham sedalam apa vocabulary-mu di topik tersebut.

Present time, sehari setelah 25 Juli.
26 juga adalah waktu di mana kamu mulai khawatir apa yang akan kamu lakukan begitu JDERR menginjak angka 30. Rasanya sebentar banget gitu, sampe mendadak lupa udah ngapain aja. Iya, karena kebanyakan dari kita pas umur 15 pengen banget dianggap dewasa, bawaannya pengen cepet-cepet gede aja sampe umur 20 ke atas. Yaaa maklum, banyak kemudahan-kemudahan yang pingin kita rasain begitu akhirnya sampe di umur 17 tahun.

Membayangkan umur 30, agak-agak ngeri kematengan gimana gitu. Selalu wondering, duh gue udah jadi apa ya nanti, bakal kayak gimana nanti, masih main musik nggak, masih bisa ngeblog nggak, masih bisa jalan-jalan nggak, dan yang paling bikin leher sakit: Masih bisa sehat untuk nyari kerja atau nggak? DUEERRRR
But, 26 is fun,sure do :)
The major change that happened in my twenty six, is marriage. Dengan tanggal yang sengaja dipepet-pepetin biar deket sama ulang tahun gue WHICH IS ADALAH TANGGAL TUA, merupakan suatu anugerah sekaligus pikiran yang akan gue arungi seumur hidup.Tapi senengnya adalah, gue dapet seorang partner hidup yang super-pinter, punya banyak perbedaan untuk dijelajah satu sama lain, juga punya sumber daya yang subur. *wink -- dan setelah hampir tiga tahun mendosa bareng, akhirnya kami sekarang selalu pulang ke rumah yang sama.

Yaiyalah, orang musti bayar kontrakan ...

Ciyeee yang udah berhenti ngekos. Gileeee lu ndro, gue hampir 9 tahun ngekos dari jaman sekolah, akhirnya sekarang bisa tidur di tempat yang gedean dikit hahaha. Bisa nyicil perabotan, punya banyak space untuk duduk ngegame dan brainstorm tanpa harus tabrakan saat jalan, karena satu-satunya space kosong saat ngekos dipake buat naro jemuran.

Oh ya, dan hari-hari setelah marriage adalah sebuah pengalaman pertama yang sangat membekas. Dimulai dari persiapannya yang sangat menguras energi dan pikiran, ya gugupnya, ya mulesnya, ya keluar duitnya, ya disyukuri aja. Lalu yang berkesan lagi sebenernya saat resepsi. Seneng aja gitu orang dateng rame-rame tapi gak ada yang kenal. Kayak mendadak dapet networking yang luas tapi gak ada yang bisa dipake HAHAHAHA

Tapi emang yang rasanya paling blessful adalah bersatunya dua keluarga sih. Jadi, sekarang punya dua orangtua deeh. Dan saat marriage ini adalah pertama kalinya gue merasa sangat diterima dan dihargai, dan didengarkan sebagai seorang figur yang utuh.



Di dunia perkariran, 26 adalah sebuah titik di mana gue minggir sejenak dari kehidupan ahensi digital, untuk bekerja di sebuah perusahaan yang saat ini lagi berusaha menyelesaikan mega-proyeknya di Jakarta. Gue bergabung di dalam divisi Ghostbuster, sebuah tim pemburu hantu yang sangat kompeten di bidangnya masing-masing, tapi masih suka susah terima kalo ternyata kita sendiri lah hantunya hahahahahaha

26, adalah tentang being commited dan maintaining consistency. Terlepas dari apa yang akan gue kerjain hari ini dan di masa mendatang, hasrat untuk nge-band lagi rupanya belom pudar lho, masih suka jamming ala-ala, belom lagi ditambah misi mulia yaitu belajar merintis karir sebagai pembuat konten biar bisa jadi Youtuber tahun ini :)) -- Oh ya, dan sampe detik ini pun, gue masih tetap berambisi untuk jadi RI 1. Camkan!