Hey it's me again!

Pertama kali menginjakkan kaki ke Hotel Santika Seminyak ini, sebenernya kali pertama juga nginjek tanah Bali, sekaligus bertepatan dengan agenda honeymolen -- honeymoon dan kruntelan kek pisang molen.

Jadi ceritanya, gue dan wifey tuh' abis short-visit dari Ubud, lalu langsung cuss ke Sunset Road buat ke Santika. Perasaan di jalan, kok ya lumayan jauh ya dari Ubud ke Sunset Road, mana punggung renta kita makin cenut-cenut, bayangan leyeh-leyeh di hotel nanti jadi lumayan tinggi juga. Awas aja kalo gak enak batin gue.

Sesampainya di hotel, seneng banget kita! Belum masuk ke lobi aja, kita udah dapet sambutan hangat dari......... satpam. Trus, satpamnya ramah banget. Kita keluar masuk disenyumin & tanpa hentinya disapa (Heh sapa lo? Sapa lo?)

Gue mulai heran sama jenjang karir di Santika, padahal bapak ini sebenernya bakat lho jadi resepsionis. Buset baru dateng udah peduli jenjang karir satpam.

Dari sini
Kepedulian gue terhadap karir resepsionis, akhirnya berbuah manis.

Masuk dong ke lobi, wah lobinya punya fitur lengkap & luas banget. Ada sofa-sofa ruang tunggu yang empuk, ruang komputer buat Youtube-an gratis, jadi kalo gak sanggup bayar hotel ini, bisa numpang browsing hotel lain yang lebih murah, piano untuk menyalurkan kemampuan, dan ada toko bakery lagi. Jangan-jangan di belakang ada Ruang Publik Terpadu Ramah Anak pula. Mantaf!

Dari sini
Berhubung kita statusnya masih pasangan muda yang belum terlalu sering ena-ena, jadilah kita pesen bed King Size. Soalnya, pasangan tua katanya suka males kruntelan lagi tuh, nah dimumpungin deh. Setelah proses booking selesai, langsung deh ngacir ke lift.

Dari sini
Sebelum bikin ade
Sekelar proses bikin ade, taraaa
Setibanya di kamar, gue cengar-cengir gak berhenti. Kamarnya spacey banget, bernuansa elegan & homey dengan dominan warna-warna natural-finished. Pas buka gorden jendela, ternyata ada mini balkon gitu. Gak terlalu gede sih, lumayan lah buat sekedar ngopi sambil berdiri. Tapi ati-ati, kalo dibuka pas malem, suka ada yang masuk tuh. Yaaa kadang belalang, jangkrik, kecoa terbang juga pernah. Maklum kita dapet mini balkon yang sebelahnya kebon kosong.

Ngomong-ngomong nih, tiap kali dateng ke hotel, gue udah punya standard sendiri buat kelengkapan kamarnya; yakni musti ada heater elektrik dan colokan melimpah.


Berbagai kopi, teh serta pengaduknya, yang (kalo gak punya malu) bisa dibawa pulang

Bener aja, Santika pengertian banget. Gak cuma heater, gelas + kopi/teh + pengaduk gratis (Gratis apaan, lu ambil bawa pulang iya) yang di-refill tiap hari, plus free wifi dan colokan hampir di seluruh sudut ruangan termasuk di setiap sisi tempat tidur biar gak berebutan sama istri. Heaven!


Kelengkapan lainnya tentunya built-in AC, mini-fridge, tv kabel, meja belajar untuk menunjang kebutuhan wajib belajar 9 tahun, hair-dryer, lemari double-door, telepon dan sepasang lampu tidur.

Oohh double shower, nikmat mana yang kamu dustakan
Beralih ke kamar mandi, ternyata juga gak kalah lega sama kamarnya. Area shower-nya luas (double shower), lengkap dengan air panas, wastafel, brush-set + shampoo/sabun, kaca gede setengah badan, dan dua pasang handuk buat cuci muka + mandi.

--

Besoknya, ternyata kita bangun agak telat, emang sih kehidupan pasangan muda banyak yang perlu dimaklumi. Pas ngecek jam, waduh sejam lagi breakfast kelar nih. Langsung deh narik istri gradak-gruduk ke rooftop.


Breakfast di hotel, gak lengkap rasanya kalo nggak 'nyisir' semua menu yang disediain. Inceran pertama gue? Ngabisin susu dong! Abis seger banget kan ya, baru melek langsung minum susu murni dingin, puji sukur kalo ditambah koko krunch + honey star, endeeeuss!

Eh, jangan lupa makanannya diicipin semua, biar noraknya sekalian. Overall, menu sarapannya pasti lengkap lah ya. Dari menu appetizer, main-course, dan dessert, semuanya gak mengecewakan. Ada chef juga yang standby buat order menu lain kalo kamu mau.

Omelet cantik yang entah kenapa mirip muka Kamen Rider ...
Restoran yang bertanggung jawab atas semua happy-meal ini bernama Merah Saga. Gue sih betah ya sarapan di sini. Selain karena gratis, waitress dan kokinya juga ramah. Orang kalo nyambut ramah, makan apapun rasanya jadi lebih ridho gitu. Di depannya ada podium juga lho buat kamu yang pingin sarapan sambil pidato berapi-api, biar membakar semangat para pengunjung hotel yang gak doyan makan. Good job, Merah Saga!


Perut kenyang, tinggal berenang! Pas liat kolam renangnya, lah ini ubinnya mirip bak mandi eyang gue :))


Yah gimana ya, kesan pertama kan gak bisa boong, eh akhirnya mah nyebur juga. Tapi beneran deh, view berenang di rooftop tuh' kece juga ya. Kalo beruntung, bisa sambil liat sunset juga kalo gak kealingan gedung. Secapeknya berenang, di sini juga tersedia winery & massage service juga, lho.

Jadiii, final summary gue adalah:

Satisfaction:
  • Suasana hotel & kamar yang terawat, elegan serta homey, bikin betah.
  • Salah satu hotel yang menurut gue "standard enak & aman" kalo ke Bali. 
  • Karyawannya ramah, house-keepingnya sabar banget, kalo tamu belum pergi sampe sore pun masih dijagain kali-kali mau dibersihin.
  • Menu makanan room servicenya enak, bisa diadu lah sama menu favorit kamu di tempat lain. 
  • Breakfastnya gak mengecewakan. Relatif enak :D
  • Colokan everywhere!
  • Menurut gue letak hotel ini strategis ya, mau ke mana-mana relatif gak terlalu jauh. Tempat oleh-oleh, kafe-kafe, factory outlet,atau mau sekalian geber ke GWK, gak terlalu jauh.
Minor Bug:
  • Flusher di kamar gue bunyi berisik gitu, semacem kekencengan tekanan airnya dan susah disetel, kalo mau cebok & siram-siram susah meganginnya :(
  • Ukuran mini balkonnya kecil alias nanggung, dan meresahkan karena deket kebon :(
  • Letak televisi kejauhan :D
  • Respon shower air panasnya lambat, yaaa musti nunggu 3 menitan lah.
  • Kolam renangnya mungkin mengusung konsep bak mandi raksasa kali ya, tapi semua kesan tersebut menguap berhubung view berenang dari rooftop bagus :D

Hotel Santika Seminyak, Bali

Jl. Sunset Road No.17, Seminyak, Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361, Indonesia

Hey, it's me again!

Kamu ngerasa anak sosmed banget? Suka sama dunia digital dan nelusuri sisi lain dari perkembangan teknologi? Congrats! Kamu datang ke tempat yang tepat!

Black Mirror, buat gue adalah satu dari sekian banyak TV series yang setelah ditonton, sangat bikin hati gak enak dengan cara yang paling brilian.

Gak enaknya tuh bukan kayak pas lagi sreg-sregnya jalan bareng habis seminggu jadian, tiba-tiba diputusin via Whatsapp, atau sukses flirting seminggu eh pas ditembak ternyata orangnya gak suka sama elo alias PHP (karena cewek millenials sangat suka tantangan hohoho), tapi lebih ke gak enak ala-ala merenungi nasib 'Ya Allah ya Tuhan YME, selama ini gue hidup jadi presiden ngapain aja ya' kind of version gitu deh.

Dengan judul seserem Black Mirror, kamu pastinya nebak-nebak sebenernya film ini soal apa sih? Horror ya? Setan-setan gitu? Oh tenang, kamu yang kagetan bisa lebih bernafas lega karena film ini genrenya THRILLER HAHAHAHA

Kaca hitam yang dimaksud adalah teknologi. Lebih spesifik lagi, hmmm layar smartphone mungkin?  
\Well, memang gak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi hari ini sangat besar efeknya pada kehidupan manusia. Black Mirror ini menyuguhkan sisi gelap dari teknologi tersebut, berupa alternatif plot kehidupan kalo-kalo teknologi ini beneran berhasil mengambil alih seluruh aspek kehidupan kita sehari-hari.

Karena kengerian tersebut lah yang membuat mata kita tertutup, kita jadi berhenti memanusiakan manusia saking asiknya menjalani rutinitas (yang pastinya selalu terbantu) dengan teknologi.

Hal-hal tadi adalah segelintir alasan yang membuat film ini begitu populer (walaupun secara season singkat banget) serta bikin orang maki-maki di timeline gara-gara ending dari sebagian besar series-nya yang hmmmm apa ya bahasanya; tidak diharapkan :)

Meski begitu, ada tiga kata yang bisa mendeskripsikan kenapa film ini begitu recomended buat ditonton: Mind-blowing, Unpredictable, dan Faith-Shaking. Faith-shaking yang dimaksud bukan kepercayan sama Tuhan YME lho, tapi lebih ke keyakinan hidup sebagai manusia. Ga mau ah dituduh penistaan cuma gara-gara nulis review :)

Ada tiga season yang bisa kamu nikmati sambil ber-mindfuck ria. But note this, sekali kamu nonton satu episode, akan ada immediate hunger yang menyelimuti batin; gak bisa berhenti!

Mungkin di hati rasanya gak nyaman, tapi alam bawah sadar kamu tuh sebenernya betah ditampar. Pengen lagi dan lagi, penasaran dengan alternatif kehidupan lain yang mungkin aja kejadian di dunia fana ini.

Karena misteri cerita yang ada di setiap kepingan seri Black Mirror kerap terkandung plot-twist, gue sebagai penulis yang hobi bikin review dengan kualitas HQQ, akan mencoba untuk membuat intisari serta penjabaran secara mendetail di tiap episode-nya.

Soalnya saat pertama kali nonton biasanya suka agak bingung tuh' atau minimal nanya mamah lah. Tapi masa udah gede nanya mulu kek pembantu baru.

Nah, biar gak terlalu kaget, minimal mantep lah ngikutin jalan ceritanya. Catatan sedikit, mendingan baca bagian 'message'-nya setelah nonton aja ya.
SEASON I
 Episode 1: The National Anthem


Perdana Menteri Inggris dibuat geger oleh ulah seseorang yang menculik putri kerajaan lalu meminta sebuah tebusan. Apa tebusannya? Perdana Menteri Inggiris harus mau melakukan intercourse dengan seekor babi (iya kamu gak salah baca) lalu disiarkan secara live di televisi nasional, lengkap dengan segudang technical detail yang diinstruksikan penculik; membuat skenario ini makin gak masuk akal dan menggerus akal sehat seisi pemerintahan.

Yang makin bikin keruh, setelah mati-matian merahasiakan ancaman ini, akhirnya informasi tentang adanya skenario live tersebut bocor juga ke publik, membuat tayangan live tersebut semakin emm.. dinanti-nanti. Belum lagi dilema dari sang Perdana Menteri, apakah harus memenuhi tuntutan penculik dan menggadaikan akal sehat, atau tetap berakal dengan menjadi pembunuh putri kerajaan?

Message: Dengan membaca ulasan barusan, kita secara gak sadar jadi sangat terfokus pada live Perdana Menteri tersebut, membayangkan akan gimana nasibnya dst dst, bener nggak? Si penculik sebenarnya cuma ingin membuktikan pemikirannya: kita selalu dibuat 'buta' oleh apa yang terjadi di layar, lalu melupakan apa yang terjadi di sekitar, and he won.


Episode 2: Fifteen Million Merits


Kamu yang suka sama film-film Dystopia (kebalikan dari Utopia;gambaran masa depan yang cerah), episode yang ini tampaknya cukup menjanjikan.

Berujung pada masa depan super-modern yang membosankan, membuat manusianya 'bergantung' pada sebuah "tayangan bergengsi" semata hanya sebagai pengalihan agar tetap terhibur dan melanjutkan hidup. Sebagai rutinitas sehari-hari, semua orang menghabiskan waktunya di atas mesin sepeda/bike-trainer, untuk bisa makan, minum serta menghasilkan uang yang dinamakan 'Merits'.

Setiap aktifitas yang dijalankan harus rela disela oleh iklan-iklan yang gak bisa diskip/diacuhkan, karena jika nekat, kamu harus bayar denda/penalti. Di dunia ini, para penderita obesitas hidup sebagai second-class, yang biasanya bekerja sebagai tukang bersih-bersih mesin atau sebagai objek bully dalam game-show.

 
Bingham Madsen, terwarisi merits sebanyak 15.000.000 dari kematian kakaknya, membuatnya bisa merasakan kemewahan dan  nge-skip iklan-iklan sebanyak yang dia mau. Sampai akhirnya di toilet, dia mendengar satu cewek bernama Abi nyanyi-nyanyi bagus banget. Lantas Madsen, menyemangati dia untuk ikutan salah satu "tayangan bergengsi" yang mirip-mirip sama X-Factor bernama Hot Shot, yang juga menawarkan kesempatan untuk keluar dari kehidupan mainstream selayaknya 'budak' tadi.

Masalahnya, harga tiket untuk Abi, seharga persis dengan seluruh tabungan Madsen yakni 15 juta merits; yang dalam hal ini, apakah Madsen rela mengorbanan hidupnya demi hidup orang lain?

Message: A lifestyle could kill yourself.

Episode 3: The Entire History of You


Bercerita tentang realitas di mana orang-orang ditanami implan di belakang kupingnya; sebuah 'module' untuk merekam semua aktifitas yang didengar, dilihat, telah atau sudah dilakukan, memungkinkan kumpulan-kumpulan memori tersebut untuk diputar ulang dan ditonton kembali di hadapan seseorang, atau diputar dalam sebuah layar.

Message: Konsekuensi dari penerapan teknologi agar manusia semakin transparan khususnya dalam hal interaksi/relationship terhadap orang lain, agaknya bisa jadi keputusan yang salah. Menjadi saksi saat rasa insecure dan kepercayaan didukung penuh oleh teknologi, adalah kengerian yang sulit dibantah. Teknologi gak bisa membeli empati & akal sehat.

Season II
Episode 1: Be Right Back


Martha & Ash, adalah pasangan muda yang baru aja memutuskan untuk pindah ke pedesaan. Setelah pindah-pindahan selesai, suaminya Ash meninggal saat sedang di perjalanan mengembalikan mobil sewaan. Keadaan tersebut semakin diperumit setelah mengetahui bahwa Martha sedang mengandung.

In that depressing moment, Martha akhirnya mencoba sebuah online service yang mengklaim dapat menjaganya tetap in touch dengan mereka yang sudah tiada dengan beberapa tahapan. Tahapan pertama, dengan melakuan voice talk yang semua data-datanya diambil dari profil Social Media, serta history komunikasi yang pernah mereka lakukan bersama, sehingga replikasi suara Ash bisa semakin memungkinkan.

Dalam prosesnya, Martha masih berusaha menerima keadaan tersebut, meski sebenarnya udah menjalani voice talk dengan Ash selama seminggu penuh non-stop. Sampai akhirnya Martha panik karena gak sengaja menjatuhkan ponselnya, membuat kedekatan hubungannya secara voice-talk dengan Ash terancam.

Lalu Martha, memutuskan untuk masuk ke tahapan berikutnya; sebuah projek robot/android terbuat dari daging sintetik yang kepribadiannya berasal dari data-data yang bisa diupload. Meanwhile, tanggal kelahiran anaknya pun semakin dekat. Kira-kira anaknya bakal tahu/terima nggak kalau bapaknya ternyata emm.... bukan bapaknya?

Message: Kematian adalah takdir yang mengikat semua makhluk hidup. Adalah wajar, kita sebagai manusia secara turun-temurun masih berusaha untuk cheating death atau menipu kematian dengan banyak cara. Dari cara memperpanjang umur, mentransfer kesadaran agar hidup lebih lama, bahkan melakukan sihir/ritual membangkitkan orang mati.

Tapi in my opinion, apa yang membuatmu mati sebenarnya bukan kematian, melainan waktu. Kamu mungkin bisa menipu kematian, tapi kamu gak bisa menipu waktu. Karena kematian adalah salah satu wujud realitas dari waktu itu sendiri. Kalau gak bisa menerima kematian, sebagai manusia kamu juga gagal menerima realita/kenyataan. Entah secara sukarela atau terpaksa, keduanya cuma soal sudut pandang.

Episode 2: White Bear


Dimulai dari scene seseorang bernama Victoria, yang terbangun di sebuah rumah dalam keadaan amnesia, bingung dan ketakutan, setelah (kayaknya) melakukan percobaan bunuh diri. Serangkaian gambaran & fragmen memori menunjukkan dia sebenarnya pernah punya suami dan anak perempuan. Pencarian jati diri jadi semakin sulit karena keadaan sinyal di daerah tersebut lumpuh.

Semakin ke luar, makin keliatan bahwa Victoria tinggal di sebuah lingkungan yang penuh keanehan dan horror. Di mana semua orang yang ia temui berlomba-lomba merekam video atas dirinya, belum lagi ditambah ada segerombolan orang bertopeng aneh & bersenjata yang memburu/ngejar-ngejar ke mana pun Victoria pergi; a complete chaos. 

Kasian banget Victoria, cuma bisa luntang-lantung sampe akhir mencari jati diri sambil jadi buronan dan direkam oleh warga sekitar, tanpa tahu sebabnya.

Message:  Karakter Victoria yang sepanjang film ini sukses membuat gue jengkel bukan main, ternyata adalah pelaku pembunuhan seorang anak perempuan bernama Jemima Sykes yang diculik gak jauh dari rumahnya. Kejahatan ini ia lakukan bareng tunangannya; Iain Rannoch, yang menyiksa dan membakar Jemima, sementara Victoria sibuk merekam aksi tersebut via ponsel.

The White Bear, tadinya merujuk kepada boneka Teddy Bear milik korban, yang digunakan sebagai judul investigasi kasus tindak kriminal yang dilakukan Victoria. Simbol yang ada di televisi, juga identik dengan tattoo di leher Iain, tetapi Iain terlebih dulu bunuh diri sebelum menjalani persidangan. Setelah Victoria diputuskan bersalah tapi tetap bersikeras ia saat itu berada dibawah pengaruh Iain, Victoria dihukum untuk menjalani penyiksaan "merasakan kembali pengalaman" yang dialami oleh Jemima.

The White Bear Justice Park, adalah ide yang dicetuskan akibat kecerobohan (atau kesengajaan?) Victoria karena video rekaman terebut diendus oleh badan hukum. Hukuman ini dibuka secara komersil bagi khalayak umum yang ingin ikut andil dalam jalannya proses hukuman. Victoria disiksa berulang kali dalam skenario tersebut dan dihilangkan ingatannya setiap kali ada pelanggan yang ingin menyaksikan.

Kayaknya episode ini adalah yang paling disturbing buat gue, selain karena rengekan Victoria yang bikin jengkel dan bikin kuping sakit, plot-twist-nya emang gokil sih. Kalau boleh kasih saran, jangan nonton ini sebelum tidur, gue ampe ngimpi jelek soalnya.

Episode 3: The Waldo Moment


Mulai kapok & jengkel karena terombang-ambing dengan twist episode White Bear? Wah jangan dulu, seri berikut cukup ringan kok, lumayan untuk reset tempo nonton dari awal lagi :D

Waldo -- adalah nama karakter kartun beruang biru yang 'didalangi' oleh seorang komedian bernama Jamie Salter. Waldo adalah bad-jokes generator, dikenal terbiasa mewawancarai pejabat & tokoh penting lewat acara Tonight For One Week Only dengan gaya bercanda yang kasar untuk membuat penontonnya terhibur.

Hingga akhirnya Waldo mendapat kesempatan untuk mewawancarai calon kandidat dari salah satu partai politik yang tengah menjalani proses pemilihan anggota dewan, Liam Monroe, tentunya dengan bad-jokes bully khas Waldo.

Ternyata momen bully-bully politisi tersebut justru sukses besar menaikkan rating dan membuat image Waldo makin populer, membuat sang produser; Jack Napier memberanikan diri untuk membuat acara solo Waldo. Bahkan, menyarankan Waldo untuk ikut masuk dalam kancah pemilihan kandidat untuk mendompleng popularitas; memanfaatkan wujud kartun Waldo yang untouchable dan berbekal opini publik. Tercetuslah ide untuk menggunakan truk berlayar LCD besar sebagai sarana kampanye dan mengolok-olok calon lain secara live.

Terlepas dari seberapa populernya Waldo, justru membuat Jamie; yang sebenarnya sama sekali gak tertarik dengan dunia politik, makin gak puas dan frustasi.

Dilema karir Jamie semakin rumit saat ia bertemu dengan kubu saingan dari partai Buruh, Gwendolyn Harris, yang sebenarnya tahu bahwa kemungkinan menangnya nol besar, bergabung hanya untuk stepping-stone ke jenjang karir politik selanjutnya. Harris merasa Jamie bukanlah ancaman, (karena Waldo-lah yang dicalonkan), keduanya ternyata punya visi yang sama, lalu mereka pun bertukar cerita dan insight.

Konflik semakin meruncing, saat karakter Jamie yang gak suka politik tercampur aduk dengan misi entertainment campaign-nya bersama Waldo. Belum lagi hubungannya dengan Harris terancam bubar karena Jamie keceplosan membocorkan motif Harris bergabung di politik secara publik, membuat Jamie makin kehilangan kontrol atas hidup serta karirnya.

Message: Yaaa begitulah saat rasa apatisme dan ketidakpercayaan kita sebagai publik, dimanfaatkan serta dipermainkan oleh teknologi. Lebih buruk lagi, Harris & Jamie, yang dari awal berharap bahwa apa yang mereka kerjakan sekarang bisa berbuah baik di kemudian hari, justru jadi bumerang; mereka gak berdaya melawan kekuatan gempuran media yang masif.

Menurut gue episode ini agak underrated berhubung plotnya yang straight-forward, key-message yang pingin disampaikan pun kayanya agak geser ya, kurang jela gitu. Not one of my favorite eps.


------- Eh sori sori, season III-nya masih on-going nih. Sementara nunggu, jangan lupa subscribe di bagian bawah blog ini serta tinggalin comment kalau kamu suka dan nungguin review bagian berikutnya ya :D





Hey, it's me again!

Sebelumnya mau tanya dulu nih, are you the big fans of Dumbledore?

Gue sendiri, bisa dibilang udah lama mencintai karakter-karakter penyihir. Abis gimana ya, gue ngerasa ada kemiripan antara karakter gue dan sosok penyihir (ciah gitu)

Mereka umumnya misterius, unpredictable, punya segudang rahasia yang sengaja disimpen untuk waktu yang tepat, dan yang paling keren mereka ini diberkahi keahlian spell-casting atau meramu mantra, sebuah shortcut to any weaponry. Tinggal ucap sana-sini, dan sedikit gesture nyentrik, bisa muncul aneka senjata dari level konyol hingga ke level bumi hangus, it's beyond your imagination.

Rasanya beda banget kan jika dibandingin dengan pengguna senjata berwujud fisik kayak pistol, senapan, pedang, dan panah? Sihir itu punya tantangannya sendiri. Malahan setiap kali main game RPG, biasanya pilihan karakter gue selalu jatuh pada Wizard. Enak aja gitu, maen belakang tapi bisa cepet bikin mati musuh :D

Kita semua, termasuk kamu, pastinya setuju dengan anggapan bahwa Dumbledore, adalah penyihir besar. Bahkan, yang terbesar serta terbaik di masanya. Keturunan Merlin gitu loh.

Dumbledore, seorang penyihir yang resourceful. Menguasai hampir seluruh mantra sihir tingkat advanced hingga yang terlarang sekali pun. Mungkin jika Dumbledore melanjutkan duel dengan Voldemort, bisa jelas dipastikan siapa yang berakhir menjadi pemenang.

Sesuai dengan apa yang terjadi di film, Voldemort terlebih dulu mengalahkan Dumbledore, yang harus rela berkorban demi skenario besar yang telah ia rangkai dengan Severus Snape.

Tapi sebenernya sih, apa yang mengalahkan Voldemort bukanlah Harry, melainkan kebodohannya sendiri. Voldemort cukup bodoh untuk bikin Horcrux. Terlalu senang sampe akhirnya gak sempet riset secara menyeluruh tentang resiko dan berbagai macam kemungkinan yang akan dihadapi. Saking bodohnya, gue sampe bikin tulisan lengkap tentang "Horcrux guide" yang bisa dibaca selengkapnya di: http://www.banbanpret.com/2016/11/the-horcrux-guide.html

Jelas, kebodohan adalah musuh segala umat. Seenggaknya itulah yang terjadi di Facebook feed gue dua bulan terakhir. Hingar-bingar argumen/opini politik yang intinya cuma adu statement tentang 'siapa yang terlihat paling bodoh' tanpa ada action serius yang lebih jelas. Oke mari kita berhenti bahas ini sebelum terjadi penistaan.


Udah pada nonton Fantastic Beast tempo hari lalu kan?

Munculnya Obscurial di film tersebut sebenernya membuka satu clue bahwa salah satu anggota keluarga Dumbledore, juga merupakan Obscurial.

Nah, kalo udah ngomongin Dumbledore, mau nggak mau juga harus ngomongin kerabatnya Aberforth dan seberapa besar kaitan sejarah Dumbledore dengan salah satu penyihir termasyur saat itu, Gellert Grindelwald. Waduh, kok Jack Sparrow yang keluar? oo woozi-woozi laka-leke (abaikan)

Keluarga Yang Ditutup-tutupi
"When my sister was six years old, she was attacked, by three Muggle boys. They'd seen her practising magic, spying through the back garden hedge: She was a kid, she couldn't control it, no witch or wizard can at that age. What they saw, scared them, I expect. They forced their way through the hedge, and when she couldn't show them the trick, they got a bit carried away trying to stop the little freak doing it." Aberforth Dumbledore on Ariana's attack

Keluarga Dumbledore tinggal di Mould-on-the-Wold (sebuah desa sihir di Inggris) yang terdiri atas Percival & Kendra Dumbledore, lalu mempunyai tiga anak secara berurutan yakni Albus Dumbledore, Aberforth Dumbledore, dan Ariana Dumbledore. Karena di film hanya Aberforth yang masih hidup, lalu ke manakah keluarga lainnya selama ini?


 (Percival & Kendra Dumbledore, gak jelas ya? Ngambil dari wiki inih)

Ariana adalah yang termuda di antara ketiga anak Percival & Kendra. Saat umurnya 6 tahun, Ariana sedang belajar mempraktekkan sihir lalu gak sengaja terlihat oleh anak-anak muggle. Anak-anak muggle tersebut lalu menyuruh Ariana untuk membuktikan sihir tersebut. Tapi Ariana gagal, lalu seketika diserang oleh para anak muggle tersebut.

Karena kaget dan trauma, Ariana gak sengaja mengeluarkan self-defense yakni sebuah sihir yang tanpa sadar gak bisa ia kendalikan (memperkuat asumsi yang beredar bahwa Ariana memang Obscurial), membuat anak-anak muggle tersebut lari terbirit-birit.

Gak terima atas apa yang terjadi pada anaknya, Percival Dumbledore akhirnya mendatangi anak-anak muggle tersebut untuk membalas dendam. Gara-gara kejadian ini, Percival Dumbledore akhirnya dipenjara seumur hidup di Azkaban.

Ibunya, memutuskan pindah ke Godric's Hollow untuk alasan keamanan Ariana, membuatnya terasing dari dunia luar. Saat Ariana berumur 14 tahun, ada satu kejadian di mana Ariana emosi dan membuatnya lepas kendali, lalu melepaskan sihir yang terjadi pada anak-anak muggle tadi.

Aberforth Dumbledore
Kakak tersayangnya, Aberforth, yang terbiasa menenangkannya saat emosi, sialnya sedang gak di rumah. Ledakan sihir yang dilepaskan Ariana akhirnya menewaskan ibunya.

Albus yang tadinya berencana untuk berpetualang bersama Elphias Doge, terpaksa batal untuk menghadiri pemakaman ibunya. Albus, yang tadinya memang gak dekat dengan keluarga harus bersedia mengambil tanggung jawab menjaga Ariana. Meski Aberforth dirasa yang paling layak untuk menjaga Ariana, tapi Dumbledore melarangnya dengan alasan bahwa Aberforth belum lulus dari Hogwarts.
Dumbledore adalah 'pembunuh' Ariana

At some point, setelah Albus memutuskan untuk menjaga Ariana, seorang penyihir bernama Gellert Grindelwald datang ke Godric's Hollow; setelah dikeluarkan dari Durmstrang Institute gara-gara percobaan ekstrimnya terhadap Dark Arts, untuk tinggal bersama bibinya, Bathilda Bagshot. Gellert juga mempunyai sejumlah track-record buruk yang mana Dumbledore, memutuskan untuk gak mempedulikannya.


Berbekal idealisme dan bakat dari lahir, Albus dan Gellert mereka pun akhirnya berteman dengan akrab (kurang lebih 2-3 bulan berteman menurut wiki-nya), pun karena keduanya juga sama-sama ambisius. Lalu, mereka membuat sebuah rencana untuk mengambil alih dunia persihiran, dan membuat para muggle bertekuk lutut serta patuh, menjadikan diri mereka lebih berguna di dunia ini.

"He didn't like that. Grindelwald didn't like that at all. He got angry. He told me what a stupid little boy I was, trying to stand in the way of him and my brilliant brother... Didn't I understand, my poor sister wouldn't have to be hidden once they'd changed the world, and led the wizards out of hiding, and taught the Muggles their place? And there was an argument... and I pulled my wand, and he pulled out his...." - Aberforth

Mendengar rencana tersebut, Aberforth jelas-jelas menentang hal ini, dengan alasan bahwa Ariana gak ada hubungannya untuk diseret-seret ke rencana gila ini. Gellert marah lalu beralasan, dengan menguasai para muggle, Ariana gak perlu hidup secara sembunyi-sembunyi lagi.

Duel di antara mereka bertiga pun terjadi, sebuah duel legendaris di Godric's Hollow yang terkenal pada jamannya. Ariana, yang belum bisa mengontrol kekuatan sihirnya berusaha menghentikan pertengkaran mereka. Lalu secara gak sengaja, Ariana pun terbunuh di tempat. Belum jelas sihir milik siapa dari mereka bertiga yang membuat Ariana terbunuh.

Gellert pun kabur, meninggalkan rasa sakit yang mendalam terhadap keluarga Dumbledore yang tersisa, sekaligus mengakhiri pertemanannya dengan Albus.
Di pemakaman, Aberforth menyalahkan Albus atas kematian Ariana lalu mematahkan hidungnya. Ariana dikuburkan di tempat yang sama dengan ibunya, dengan batu nisan bertuliskan "Where your treasure is, there will your heart be also" yang dipilih oleh Albus. Dengan rasa marah dan geram, Albus akhirnya harus menerima dan mengubur pahit selama hidupnya.
Dumbledore adalah 'pemburu' Deathly Hallows
Above all else, yang masih bikin penasaran sekaligus memunculkan pertanyaan besar adalah: Gimana caranya seluruh relic the Deathly Hallows ada di tangan Dumbledore? Misteri tersebut pastinya nanggung kalau gak dirunut dari sebagian sejarah awalnya.


Setelah insiden di Godric's Hollow, rumor dari eksisnya relik penakluk kematian akhirnya sampai ke telinga seorang Gellert Grindelwald. Satu yang paling menarik minat Gellert adalah Elder Wand, tongkat sihir terkuat di jagat persihiran. Tapi sebelum tongkat tersebut berhasil dicuri oleh Gellert, Elder Wand pernah dimiliki oleh beberapa orang, lho. Penasaran?

Cerita tersebut berawal dari buku The Tales of Beedle the Bard; Deathly Hallows adalah tiga objek sihir yang dibuat oleh 'Death' atau malaikat kematian yang diberikan pada tiga bersaudara di Keluarga Peverell. Siapapun yang memiliki ketiga relik tersebut, dipercaya bisa menaklukkan/menipu kematian.

Tapi apa yang diyakini Dumbledore terhadap cerita tersebut, justru sebaliknya. Tiga bersaudara tersebut sebenarnya eksis dan merupakan penyihir berbakat, yang telah berhasil membuat tiga objek sihir super kuat nan legendaris pada masanya. Tiga objek tersebut adalah Elder Wand, Resurrection Stone, dan Cloak of Invisibility.

I think it more likely that the Peverell brothers were simply gifted, dangerous wizards who succeeded in creating those powerful objects - Dumbledore

1. Elder Wand
Pemilik: Antioch Peverell
Penerus: Mykew Gregorovitch, Gellert Grindelwald, Albus Dumbledore, Draco Malfoy, Harry Potter. (wiki)

Story: Elder Wand, diklaim sebagai tongkat sihir terkuat yang pernah dibuat di dunia persihiran. Memiliki julukan the Deathstick/Wand of Destiny, tongkat ini memiliki ciri khas unik (buat kamu yang seneng sama pertongkat-sihiran ala-ala Ollivander nih) yakni memiliki panjang 15 inch, terbuat dari kayu elder, dan memiliki inti dari rambut Thesthral; makhluk yang hanya bisa ditemui jika seseorang pernah mengalami/melihat kematian.

Rumornya, Elder Wand hanya bisa didapat dengan cara membunuh pemilik sebelumnya.

Dumbledore Posession:

Setelah mengetahui bahwa tongkat ini dimiliki oleh seorang wand-maker bernama Gregorovitch (saingannya Ollivander, muncul di Deathly Hallows part 1) yang tadinya berniat untuk menduplikat Elder Wand asli, Gellert langsung mendatangi tempat tersebut, menunggu Gregorovitch muncul dan melepaskan stupefy lalu mencurinya.

Selama bertahun-tahun, dengan tongkat barunya Gellert melepaskan teror ke seluruh penjuru Eropa. Gellert lalu membuat sebuah penjara bernama Nurmengard yang berisi para tawanannya, muggles, dan siapapun yang menghalangi jalannya. Setelah banyak diberitakan oleh media, ulah dari teman lamanya ini akhirnya sampai ke telinga Dumbledore, lalu segera berniat memburunya.

Karena Dumbledore emang lagi jaya-jayanya saat itu, Dumbledore berhasil mengalahkan Gellert melalui duel legendaris yang terkenal di dunia sihir, lalu memasukkannya ke penjara yang telah ia buat sendiri, Nurmengard. Dengan ini, Dumbledore resmi menjadi pemilik Elder Wand.

Later on di jaman Harry, Voldemort yang tengah memburu tongkat tersebut pun membunuh Gellert dalam penjaranya sendiri.
2. Resurrection Stone
Pemilik: Cadmus Peverell
Penerus: Albus Dumbledore, Harry Potter

Banyak yang salah tangkep, bahwa Resurrection Stone adalah batu untuk membangkitkan kembali yang udah mati, seperti yang diperdebatkan pada insiden pembunuhan Harry Potter oleh Voldemort di Forbidden Forest.

Resurrection Stone adalah batu untuk memanggil jiwa yang udah mati. Scene tersebut ada di seri Deathly Hallows part 2, di mana Harry bertemu kembali dengan kerabatnya sesaat sebelum menemui Voldemort di Forbidden Forest.

Dumbledore Possesion: 

Dumbledore mendapatkan relik ini di dalam cincin Marvolo Gaunt yang nantinya merupakan sebuah Horcrux yang dibuat Voldemort. Setelah menghancurkan Horcrux tersebut, batu ini diwariskan kepada Harry Potter yang disembunyikan di dalam Golden Snitch.

3. Cloak of Invisibility
Pemilik: Ignotus Peverell
Penerus: Lolanthe Peverell, Potters Family.

Relik yang diwariskan secara turun temurun semenjak jaman keluarga Peverell, lalu diwariskan oleh James Potter untuk Harry melalui brangkasnya di Gringgots Wizarding Bank.

Dumbledore's possesion:

James Potter, ayah dari Harry emang terkenal sebagai pembuat onar di Hogwarts, sekaligus murid kesayangan Dumbledore. At that time, saat Dumbledore mengetahui bahwa Voldemort sedang memburu keluarga Potter, James menunjukkan Cloak tersebut. Dumbledore pun meminta izin untuk meminjamnya dengan alasan untuk dipelajari. Setelah James Potter terbunuh, kepemilikan relik ini tetap ada pada Dumbledore, lalu memutuskan untuk memberikannya kepada Harry sebagai hadiah natal di tahun pertamanya di Hogwarts.

**

Meski gak bisa dibilang bohong juga sih, tapi apa seluruh bahasan ini termasuk plot-holes, berhubung gak diceritakan secara eksplisit di filmnya? Well, who knows. Penyihir sekelas Dumbledore pasti punya segudang alasan, kenapa harus hidup sembunyi-sembunyi dan hobi menyelesaikan masalah secara misterius.
Because secrets, has a price.
Well, that's pretty much of it! Kalo suka tulisan gue soal Harry Potter, klik SUBSCRIBE di bagian bawah blog ini ya, biar gue juga makin semangat & produktif nulis topik ini lagi :D



Hey, it's me again! 

Jika ditanya 'Game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) kayak apa yang menurut lo bagus?', DOTA adalah game pertama dari sekian banyak game MOBA yang terlintas di pikiran gue dan praktis selalu menjadi jawaban.

Puluhan heroes dan killing skill untuk dikuasai serta gimana cara antisipasinya, sistem tiga jalur lane untuk nunjukkin seberapa jago kamu melatih koordinasi dan team-work, sambil tetap dimanjain dengan animasi-animasi atraktif nan' keren sepanjang game berlangsung, rasanya udah umum buat jadi syarat suksesnya sebuah genre MOBA.

Itu sih' kalo DOTA -- Masalahnya adalah, selalu butuh sekitar 60-120 menit setiap kali DOTA battle dimulai dan dikelarin sampe rampung. Kita pastinya setuju bahwa sejam untuk nge-game tuh waktu yang relatif cukup lama lho. Bayangin bisa dapet berapa kerjaan rumah yang bisa rampung dalam sejam? (wah sudah mulai kebapakan, mantap)

Di jaman di mana developer game-game mulai terjun ke ranah mobile, dahaga kita akan game strategi yang praktis, efisien secara waktu, serta less-stressful pastinya juga makin besar dong. Apalagi hari-hari gini, nyari game mobile ber-genre MOBA yang bagus dan sesuai kriteria (bisa jadi) merupakan pe-er tersendiri.

Belum genap seminggu gue main game yang satu ini. Rasanya antara shock, kagum, dan merasa beruntung bisa jadi salah satu gamer yang sempet nyicipin kayak gimana seharusnya game MOBA bertransformasi ke ranah mobile.

Ladies and Gentleman, this is VAINGLORY.

Joule VS Catherine
Berkat Vainglory, kayaknya gue bakalan terus mantengin kerjaan Super Evil Mega Corp (SEMC), menantikan kira-kira apa lagi terobosan menarik di game selanjutnya.

Karena dilihat dari penampakan interfacenya aja, SEMC terkesan sangat serius ngegarap game ini, Vainglory is very well-constructed.

Cicip-cicip perdana gue dibuka dengan cukup menghibur lewat BGM home screen yang megah ala-ala perang medieval tapi di planet alien (sekilas mirip opening film X-MEN!). Yah, at least betah lah ngescroll Market menu sambil nunggu battle mulai.

Oke-oke -- mari kita jelajah ada apa aja di home screen.


Kita-kita sebagai pemain baru di Standard Battle, untungnya masih dimanjakan dengan opsi pilihan melawan bot, sekedar biar bisa ngerasain kayak apa pace battle di Vainglory. Walaupun ada juga sih Solo Practice Mode yang memungkinkan kita buat milih semua heroes yang tersedia (karena beberapa berbayar). Bedanya di Practice Mode, gak ada bot yang bisa kita lawan.

Melalui menu The Academy, kamu gak perlu takut gagap ngikutin semua kebaruan yang akan kamu rasakan sebentar lagi. Semua tutorial komplit-plit-plit dibahas dalam satu wadah. 

Yang penting jaga ping kamu tetep dibawah 100 demi lancarnya battle, jangan kayak gini nih ......
Masih kurang juga? Klik menu heroes (lewat menu Market), lalu pilih karakter favoritmu, lalu pilih 'Watch Heroes Spotlight'. Heroes Spotlight merupakan in-game tutorial video praktis yang berisi highlight dari heroes yang kamu pilih. Lengkap dengan pengenalan skill, role serta gimana cara aplikasinya terhadap lawan pun diajarin.

Jadi, gak perlu repot-repot exit game cuma buat browsing tutorial atau liat playthrough di Youtube. Gak ada alesan lagi deh kamu gak jago karena masih nyobain game baru.  

Kebaca gak quote brengsek di atas? :))
Instead of 5v5, kita disuguhkan battle cepat single-lane (bukan tiga lane) dengan 3v3 sambil milih mau lawan bot atau PVP, dengan estimasi waktu battle 20-30 menit.

Cara penyesuaian SEMC yang matang dari segi game mechanic, yaitu gimana cara kita navigate camera, pointing hero, belanja di tengah battle (lengkap dengan hidden shop untuk menghemat waktu balik ke markas) serta skill targeting yang menurut gue brilian banget. SEMC juga gak lupa menyematkan turrets (tower) dan minion-wave alias creep sebagai teman bermain agar lebih familiar :)


Yang gue suka dari sistem match-making-nya, semisal kamu udah klik 'find match' tapi gak kunjung klik accept lebih dari 3-5 kali, atau kamu udah klik accept tapi sering banget sengaja gak milih heroes (biasanya karena gak suka susunan hero timnya) kamu akan masuk ke 'low-priority queue'.

Di gambar di atas, keterangan 'match remaining' berarti jumlah antrian battle yang harus kamu tunggu agar bisa join lagi seperti biasa. Ini mungkin fitur remeh yang sering luput dari perhatian developer game MOBA di ranah mobile. Karena ini fitur penting biar kamu gak seenak udelnya membuang-buang waktu orang yang serius pingin main. (Oke fix ini curhat)

Halcyon Fold

Belum berhenti sampe situ. Gerakan yang smooth, responsif saat gerakkin hero dan nge-klik skill sesuai target merupakan momen krusial dalam game MOBA. Masalahnya itu kan balap-balapan sama reflek mikir ya? Dan well done SEMC, you've done a great job. Semua adjustment untuk gadget touch serasa sangat fit-in sejauh gue main.


Dipangkasnya fitur komunikasi seperti team-chat untuk koordinasi saat team-work bisa jadi malapetaka untuk game MOBA. Digantikan oleh lima emoticon yang kadang mau bikin ekspresi ketawa aja bingung, serta lima signal singkat yang sebenernya udah cukup mewakili jalannya battle, meski kadang tebak-tebak gemes juga.

Tapi setelah nyoba sekian battle tanpa fitur team-chat di Vainglory, kok rasanya malah lega ya?
 
Karena absennya fitur chatting, game ini sangat minim lag. Belum lagi resiko di-bully-bully karena masih belajar yang kadang jadi stress sendiri dan akhirnya musti capek-capek nge-mute. Atau malah banyak juga yang pensiun dini. Semua cuma gara-gara chatting.


Ngomong-ngomong, 25 heroes yang sekarang available meski beberapa berbayar, SEMC masih berbaik hati nge-rolling semua hero berbayar tersebut setiap minggu secara gratis. Wah, mulai sensitif saat denger 'game berbayar'? Tenang sob, game ini meski banyak IAP (in-app purchase) untuk memudahkan, tetep masih masuk ke ranah Free-to-Play dan bukan Pay-to-Win kok.

Coba buka deh menu Market, lalu boleh dicoba itung-itungan. ICE yang jadi premium currency di Vainglory ini umumnya hanya dipakai untuk unlock heroes, buka card chest (yang nantinya kartu-kartu ini bisa dipakai untuk nukerin skin, sisi kosmetik dari heroes yang kamu punya tanpa ngefek ke game-play battle), dan booster.

Pun kalo dihitung secara teliti sebenernya hanya memerlukan kesabaran kamu aja dalam ngumpulin Glory (gold). Maksudnya, gap konversi antara ICE dan glory relatif gak terlalu jauh. Premium Currency is not the king in Vainglory. So, it's free to play, right?

Additionally, kalo soal desain karakter kayaknya bukan hal yang selalu digaris-depankan deh oleh SEMC. Meski koleksi gambar dari skinnya cukup keren, tapi yang jadi perhatian adalah detail dari karakter tersebut lalu prosesnya bersinggungan dengan karakter lain saat battle ini perlu diacungin jempol. Smooth banget tanpa lag.
 
Pertama kali buka list karakter Vainglory, kesan pertarungan 'high-tech technology versus wizard' emang kentel banget terasa. Malahan, ada beberapa karakter yang sempet nyantol di kepala.


Ada SAW, semacem mercenary tapi mirip banget sama Jason yang bawa gergaji itu lho. Cuman bedanya, dia bawa machine gun. Meski role-nya sniper, SAW ini jalannya kayak siput. Tapi sekali kena colek pelurunya buset bikin pengen cepet pulang. Dia juga punya skill 'Roadie Run', skill melee yang memungkinkan doi buat lompat dan nusuk langsung ke target lalu balik mundur lagi.


Ada juga Baron, Joule, dan Ardan, dan hero yang paling baru Skye, manusia yang nebeng sama mecha-units sebagai senjata buat battle. Terus ada satu karakter yang mirip banget sama Skeleton King di DOTA, Alpha. Apa persamaannya? Sama-sama gak bisa mati lewat skill ultimate. Coba deh main sekitar 3-5 battle pake karakter favorit, lalu battle ke-5 pick Alpha. Skill gak bisa mati tadi bakalan kerasa bedanya untuk dunia Vainglory.

Vainglory-battle yang berlangsung selama 20 menit ini, relatif sangat enjoyable. Karena adjustment yang matang, dan tempo game-nya yang cepat, mencegah kamu jadi cepet boring.

Battle berakhir, biasanya gara-gara salah satu tim ketiban sial dapet anggota yang masih belajar, lalu di-bully-bully sampe akhirnya nyerah. Belom lagi di menit ke-15, kamu bisa ngelepas Roshan-nya Vainglory alias the Kraken, buat ngeratain tower lawan yang udah jerit-jerit tadi. Atau bisa juga karena salah satu tim kompak banget buat nguasain hutan, bikin heroes yang role-nya Jungle malah gak bisa masuk hutan dan jatuh miskin. Banyak cara selain manjain hero carry (hero yang tugasnya belanja item) untuk bisa menang di Vainglory.


Saat battle berakhir, kamu bisa nge-add sekaligus ngasih rating ke para pemain dengan thumbs-up, agar karma point si player naik, itu jika kamu pikir dia mainnya bagus. Atau rate dengan thumbs-down, lalu sertakan alasannya kenapa menurutmu player tersebut jelek. Kalau ternyata dia cukup sering bikin masalah, akan keluar report di home-screen seperti gambar di atas. Suka banget dengan jargon 'Justice served!' di atas :)

However, Vainglory yang rilis tahun 2014 lalu bisa dibilang masih pendatang baru. Tapi untungnya, sang developer cukup sering buat nge-patch setiap bulannya buat bug-fixing dan nambahin fitur-fitur baru yang menarik. Melihat dari besarnya potensi yang dimiliki dari game ini, wah gue sih gak sabar ya nungguin kayak apa update-update selanjutnya.

The Verdict

Terlepas dari game-mechanic dan sistem bertarungnya, gue udah sempet cobain beberapa game MOBA versi Android kayak Aurcus Online, Iruna, Avabel, Toram Online, dll. Akhirnya cuma nyisain Vainglory dan Toram Online. Yang terakhir disebut, gue simpen simply hanya karena gambarnya bagus :)

I must admit, that Vainglory is still the best MOBA on my Android phone.
Pros +
1. Game digarap serius, membuatnya sangat menjanjikan dan potensial untuk ditunggu updatenya.
2. Graphic dan BGM yang memukau bikin gampang larut dalam game. Boredom is your worst enemy.
3. Game-mechanic khas MOBA yang selama ini erat dibandingkan dengan DOTA di platform PC, SEMC sangat sukses melakukan penyesuaian ke dalam gadget touch. Navigasi map, kamera, belanja item, pointing heroes, semua dilakukan secara smooth dan matang. Karena ini MOBA lho, guys. Rasanya masih susah nyari game dengan penyesuaian se-memuaskan Vainglory.
4. Pilihan heroes yang lumayan banyak dan variatif. Thumbs up!
5. Fair cash-shop :)
Cons -
1. Karena hanya ada satu model map dan game format yang (hampir persis) sama, proses match-making sangat berpotensi untuk menghasilkan battle yang gak seimbang.
2. Banyak banget leaver dan kita gak bisa apa-apa selain nge-report lewat thumbs down rating sekelar bermain.

- Wiseful Vainglory Tips - 

1. Apa yang harus dipertimbangkan saat milih hero?
Kenali role dari heroes yang kamu pilih, dan lebih bagus lagi kalo cocok dengan gaya main kamu:

Protector: Heroes yang tugasnya berdiri di garis paling depan saat battle, punya skill untuk menyerap banyak damage atau bisa juga untuk support killer agar lebih berumur panjang.

Roam: Alias heroes satpam yang hobinya mondar-mandir stalking musuh dan siap-siap untuk sebuah sergapan. Harus rajin-rajin liat map dan waspada terhadap musuh yang lengah dan sendirian.

Warrior: Heroes jarak dekat, punya armor dan energi yang lebih banyak/tebal.
Lane: Heroes yang cocok main di Lane. 
Jungle: Heroes yang cocok sedari awal farming di hutan.
Sniper: Heroes tipe range yang biasanya punya skill untuk menghabisi lawan dari jauh dan mencoba kabur.

Mage: Heroes tipe range yang biasanya bergantung pada magic/crystal damage. Sanggup mukul 2-3 heroes sekaligus karena biasanya dibekali skill area.

2. Apakah wajib selalu beli recomended items?

Enaknya Vainglory, kamu bisa variasikan berbagai macam tipe senjata yag kamu rasa cocok untuk hero kamu. Jadi gak harus ngikutin recomended items. Dilihat dari tipe senjatanya, ada beberapa perbedaan mendasar:

Weapon: Senjata untuk naikin basic attack dan physical damage.
Ability: Senjata untuk naikin crystal damage/magic damage.
Defense: Items untuk pertahanan. Biasanya untuk naikin kapasitas energi, armor (untuk nambah physical resistance), dan shield (untuk nambah magic resistance).
Utilities: Senjata pelengkap untuk menunjang kekurangan kamu. Sifatnya optional.
Consumable: Berisi potion, bomb, dan items untuk ngeliat heroes yang invisible. Sifatnya situasional dan dibawa jika perlu.

3. Cara terbaik untuk ngabisin Glory & ICE?

Terlepas dari kamu tajir atau enggak, ICE biasanya dipakai pertama kali untuk unlock heroes, dan beli card chest untuk buka skin. ICE untuk booster? Hmmmm, biasanya mikir dua kali sih karena gak seberapa signifikan efeknya. Beberapa pro-player memilih untuk sabar dan mengusahakan untuk unlock semuanya dengan Glory ketimbang pake ICE. Tapi sekali lagi, ini tergantung prioritas dan kemampuan kamu.

4. Gimana cara sistem Karma Point bekerja?

Karma point ini berpengaruh sama Glory Boost (menambah pemasukan pundi-pundi Glory) dan matchmaking. Jika karma point mu jelek, kamu juga akan dipasangkan dengan pemain ber-karma jelek. Yang mana biasanya ruiner dan leaver. 

 

Well, that's pretty much of it. Please leave a comment below for feedbacks!

(If there's any feedback, will be updated soon)

Thumbnail from: