Mengenal Demam Typhoid

6 comments
Source

Berhubung demam typhoid kali ini adalah yang terburuk dan paling lama sembuh dari typhoid sebelumnya, kayaknya akan bagus jika pengalaman gue ini di share.

Jadi ceritanya, gue udah mulai sakit semenjak tanggal 26 Desember 2014 dan baru bisa recover hari ini, 24 Januari 2015. Ini adalah typhoid ketiga (yang bukan gejala) gue. Yang pertama itu waktu kecil, kedua tahun 2013 lalu, dan sekarang kena lagi.

Awal cerita dimulai di jam setengah sembilan pagi di hari Sabtu, ketika gue terpaksa harus bangun buat mengungsikan motor ke rumah sebelah karena banjir di depan kosan udah setinggi 30-40 cm (se-paha/se-perut orang dewasa). Nah, sebelum gue dibangunin dan mandi, selama ganti baju itu gue udah ngerasa sempoyongan. Karena track-record tiga hari lalu gue memang nerobos hujan terus-terusan meski pakai mantel, plus begadang ngerjain kerjaan. Ditambah besoknya musti bangun pagi-pagi banget karena kaget, ya kalian bisa bayangin lah rasanya.

Jadilah gue ngungsiin motor dan berendam di air cokelat bersama jutaan kuman, tikus got dan kecoa-kecoa yang sarangnya terendam banjir.

Setelah kelar, pulang-pulang gue ngerasa capek banget. sepuluh menit kemudian pun ketiduran. Empat jam kemudian, gue akhirnya demam.

Minggu Pertama 

Keadaan ini berlanjut sampai hari Minggu dan semakin parah sampai seminggu berikutnya. Pacar yang sedari awal gejala memang udah ada disamping gue pun panik dan memutuskan untuk berobat ke klinik langganan aja. Semasuk di klinik, langsung cek darah dan langsung ketauan gue punya 4 jenis bakteri tifus di dalem usus. Sekelarnya, gue membawa beberapa obat-obatan seperti Thiamphenicol (antibiotik buat typhoid), Alpira (Parasetamol), dan Omeprazole (Obat buat usus).

Setengah minggu pertama (Senin-Rabu), keadaan gue cuma demam naik-turun nggak ada berhentinya. Kita memang diminta kontrol lagi kalo obatnya habis. Berangkatlah kita lagi. Visit berakhir dengan digantinya obat penurun demam dan obat ususnya, antibiotiknya justru nggak dan malah ditambah.

Di hari Kamis dan Jumat keadaanku makin buruk. Muka dan bibir semakin pucet kayak mayat, nafsu makan nge-drop se-ngedropnya, badan ambruk nggak ada tenaga, demam yang gue rasa sangat tinggi karena nafas gue aja panas banget (Mungkin kali itu diatas 39 derajat) disertai menggigil hebat. Obat-obatan dari klinik terasa nggak ngefek buat nerobos resistensi si bakteri kali ini. Akhirnya di Hari Sabtu, kita mutusin buat ke Rumah Sakit Agung Manggarai, rumah sakit langganan gue buat rawat inap setiap kali tifus.

Setelah berobat di RS kelar, gue tetep bersikeras buat nggak rawat inap, padahal udah disuruh dokternya. Kita nego biarlah kita pulang dan nyoba obat dari RS dulu, setelah sebelumnya kecewa sama obat klinik, akhirnya dokter setuju. Akhirnya gue dapet beberapa obat seperti: Sanmol Tablet, Sandoz (Obat diare), dan Fixacep (Antibiotik). Ketiga obat ini cuma gue makan sekali tiap jenisnya, karena demam yang udah sampe kepala ini serasa kian membakar, akhirnya gue nyerah dan balik lagi ke RS besoknya buat dirawat inap. 



Minggu Kedua

Rekap keadaan dari minggu pertama-kedua:

- Badan ambruk, nggak kuat jalan sendiri, kepala muter-muter kayak kurang tensi
- Hampir jarang tidur selama dua minggu itu, itu pun bisa tidur sekitar dua jam karena dibawah pengaruh parasetamol
- Demam hebat hingga diatas 39 derajat (Dobel dua jaket dan satu selimut, pakai kaos kaki dan sarung tangan). Menggigil karena keadaan di dalam badan panas banget, dikasih parasetamol lalu keringetan, gerah dan minta sedikit kipas angin, sejenak enak, kemudian kedinginan lagi. Serba salah.
- Ada gejolak meremas-remas pelan dari dalam di daerah sekitar bawah perut kanan, sementara kalo dari  luar rasanya nyeri seperti abis dipelintir. Terasa banget kalo pas ganti posisi miring.
- Ada rasa sedikit mual dari tengah ulu hati (yang kadang bikin mual gak nafsu makan)


Hari Pertama Dirawat:

Karena kehabisan ruangan yang kelas III (Rp.135.000/hari), mau nggak mau harus di kelas II (Rp.350.000/hari). Yah, itung-itung nyobain karena seumur-umur belum pernah dirawat di kelas II.


Sambil nyiapin infusan, si dokternya liat-liat obat dari klinik yang kebetulan gue bawa buat konsultasi. Dia bilang obat-obatan ini udah dari jaman baheula. Dengan kata lain, kemungkinan besar bakteri Typhoid yang ada dalam badan gue udah resist sama obat-obatan klinik ini.

Nggak heran gue Typhoid udah kali ketiga, dan si bakteri pasti udah berevolusi.

Hari pertama gue baring-baring aja mengadaptasikan kondisi tangan yang diinfus, sambil dikasih beberapa obat infusan jatah pagi seperti: Sanmol (Parasetamol), Ceftriaxone (antibiotik), Lansoprazole (Obat usus), Meloxicam (pereda demam).

Gue melewati hari pertama dengan makanan khas RS yang anyep, intensitas demam yang sebelumnya bisa 4-5 kali sehari, berangsur jadi dua kali sehari. Dan harapan gue bisa istirahat dengan tenang dan nyaman di kelas II ternyata ZONK abis. Karena waktu besuk dan jumlah orang yang besuk disini bisa dibilang nggak ada aturannya. Otomatis ya nggak bisa tidur sama sekali kecuali pas kena Sanmol. BIG FAILURE FOR A HOSPITAL!

Setelah sorenya dapet Sanmol (karena demam lagi) dan satu Ceftriaxone, eh malemnya antibiotiknya diganti Levofloxacin. Which is, ternyata gue alergi. Tangan yang diinfus mendadak gatel-gatel dan perut gue berasa panas kebakar. Setelah konsultasi sama suster dan dokter, mereka setuju buat menghentikan antibiotik tersebut. Fuh.

Hari Kedua Dirawat

Pagi ini gue di Rontgen tulang rusuk buat ngelihat paru-paru, karena dari awal gue juga ada batuk-batuk. Jumlah obat buat jatah gue hari ini mulai berkurang. Tinggal Ceftriaxone, Sanmol/Varmadol (jika demam), sama Omeprazole/Lansoprazole (Obat usus). Belum ada perkembangan signifikan dari gue, karena gue masih sedikit makan (tapi mau), masih demam, dan gejolak perut masih intens.


Hari Ketiga Dirawat

Nggak ada kejadian yang berarti di pagi sampe sore hari. Sampe malemnya jam sebelas malem, dokter paru-paru secara JENG-JENG dateng ke ruangan dan nyuruh gue buat sedot paru-paru sejam lagi.

Karena diagnosanya dia, panas dan demam yang dari kemarin bersiklus di badan gue disebabkan ada cairan yang terjebak di paru-paru dan harus segera dikeluarkan.

Oh man, gue kaget bukan main dan sama sekali nggak ngerti apa itu sedot paru-paru dan yang paling penting, sakit atau nggak? Si pacar masih aja kebluk di kursi nggak tahu menahu apa yang lagi terjadi. Karena panik, tololnya gue iyain aja permintaan si dokter. Mereka pun pergi.

Gue bangunin pacar dan ngejelasin apa yang barusan terjadi. Dia pun kaget dan langsung lari ke ruang suster buat cancel acara sedot paru-parunya. Sementara pergi, gue browsing tentang semua hal yang terkait sama sedot paru-paru. Sebelumnya gue sempet nanya susternya sakit atau nggak, dijawab "Insya Allah agak sakit". WHAT THE HELL.

Ternyata nih, sedot paru-paru adalah metode dimana daerah tulang rusuk mendekati punggung belakang dibius lokal terus dicolok pake semacem selang, yaudah terus ditunggu cairan paru-parunya sampe habis keluar.


Source
Mungkin guenya aja yang cemen, tapi asli lho, karena belum pernah, gue takut setengah mati. Terus sebelum masuk rawat inap gue juga browsing-browsing asal-usul Typhoid itu kayak apa. Sekarang bahas cairan paru-paru sebagai penyebab demam Typhoid? Apa hubungannya? Simak penjelasan tentang Typhoid berikut ini:

''Demam tifoid atau sering disebut dengan tifus, merupakan salah satu jenis penyakit pencernaan yang cukup banyak diderita di Indonesia, dan dapat menyebabkan kematian. Tifus ini disebabkan oleh kuman atau bakteri yang disebut Salmonella typhi (S. typhi). Kuman ini mempunyai 107 strain yang berbeda. Sedangkan Paratifoid sendiri, penyebabnya adalah kuman Salmonella paratyphi A, B atau C. Gejala penyakit dari Paratifoid mirip dengan penyakit tifus, hanya infeksi yang terjadi mempunyai gejala yang lebih ringan.

Salmonella Typhi
Penyakit ini menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman tifus
ini. Tinja yang mengandung kuman tifus ini mencemari air untuk minum maupun untuk masak dan mencuci makanan.

Gejala dari tifus ini biasanya dimulai dengan demam yang muncul tiba-tiba, terutama pada sore hari, lidah terlihat putih kotor, nyeri pada perut, tidak nafsu makan, sakit kepala, mual-muntah, sembelit atau bisa juga diare.
 

Tifus ini dapat disembuhkan dengan pemberian antibiotika. Walaupun saat ini telah banyak antibiotika yang sudah tidak mempan lagi karena bakteri tersebut sudah banyak membangun resistensi dan beberapa dari penggunaan antibiotika yang tidak rasional.

Tidak seperti virus yang dapat beterbangan di udara, bakteri ini hidup di sanitasi yang buruk seperti lingkungan kumuh, makanan, dan minuman yang tidak higienis. Dia masuk ke dalam tubuh melalui mulut, lalu menyerang tubuh, terutama saluran cerna. 

Proses bekerjanya bakteri ini ke dalam tubuh manusia lumayan cepat. Yaitu 24-72 jam setelah masuk, meski belum menimbulkan gejala, tetapi bakteri telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu, limpa, sumsum tulang, dan ginjal. Rentang waktu antara masuknya kuman sampai dengan timbulnya gejala penyakit, sekitar 7 hari. Nah, gejalanya sendiri baru muncul setelah 3 sampai 60 hari. Pada masa-masa itulah kuman akan menyebar dan berkembang biak. Organ tubuh lalu merangsang sel darah putih mengeluarkan zat interleukin. Zat inilah yang akan merangsang terjadinya gejala demam. Kuman yang masuk ke hati akan masuk kembali dalam peredaran darah dan menyebar ke organ tubuh lainnya. 

Namun tidak seluruh bakteri Salmonella typhi dapat menyebabkan demam tifoid. “Saat kuman masuk, tubuh berupaya memberantas kuman dengan berbagai cara. Misalnya, asam lambung berupaya menghancurkan bakteri, sementara gerakan lambung berupaya mengeluarkan bakteri. Jika berhasil, orang tersebut akan terhindar dari demam tifoid.

Demam Typhoid juga dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti bronkitis, lever, dan penyakit dalam lainnya."

Kesimpulannya, Typhoid memang bisa menyebabkan komplikasi di paru-paru, tapi sumber penyebab panas di badan gue bukanlah cairan paru-paru, tapi bakteri Salmonella, titik.

Hari Keempat Dirawat:

Karena penolakan kita terhadap diagnosa dokter dan metode mereka, tiap ada suster dokter jenguk kita selalu disindir-sindir. Come on, masa RS modelnya nyindir pasien karena menolak kebijakan yang udah disetujui bersama?

Karena setelah sebelumnya ngobrol sama pacar, kami berdua yakin pihak RS kebingungan mencari obat dan diagnosa yang tepat untuk menanggulangi siklus demam di badan gue yang nggak kunjung reda. Bingung sih, tapi mana mungkin pihak RS ngaku? Nggak dong.

Akhirnya, gue dan pacar pun berembuk. Tahu nggak, keadaan gue secara overall di hari keempat itu cuma sisa demam aja. Gue mau makan, BAB lancar, minum rajin, gejolak-gejolak di perut mulai berkurang meski masih ada. Tapi karena demam dan batuk (refers to paru-paru menurut RS) yang selalu jadi highlight saban kali suster dan dokter visit, hal inilah yang kita akali.

Di sisi lain, kita juga nggak tahu udah seberapa gede biaya yang udah masuk di billing rumah sakit selama empat hari ini. Jadi kita rasa, kesempatan kali ini harus dicoba. Idenya adalah: Jangan sampai RS tahu dan mencatat bahwa selama sehari, gue ada record demam. Nggak boleh sekalipun. Karena sebelumnya sempet nanya, gimana caranya kita boleh pulang, dijawab "Kalo udah nggak demam", begitu katanya. So we do it.

You know what, inisiatif kita berhasil. Setiap kali demam, kalo sebelumnya selalu manggil suster buat minta infus Sanmol/Varmadol, kali ini gue minum Sanmol yang sebelumnya dapet dari RS Agung juga dan diminum diem-diem. Batuk? Gue berusaha tahan sebisa mungkin, at least, jangan sampai mereka tahu gue batuk kalo suster-suster lagi di sekitar ruangan, dan ide ini berhasil. 

Oh ya satu lagi, gue semenjak hari kedua selalu ngerasa antibiotik yang mereka kasih itu nggak ada efeknya karena gejolak di perut gue ini nggak ada pengurangan yang signifikan. Lalu gue teringat Nyokap gue yang nyuruh minum ekstrak cacing via obat-obatan cina, yakni Vermint, dan manjur. Satu step yang terlupa karena memang setiap kali tifus selalu ada Vermint yang menemani :)

Gue diperbolehkan pulang tanggal 8 Januari 2015 hari Kamis sore sekitar jam limaan. Meski di akhir hari gue masih aja dikasih obat bernama LAMESON (Methylprednisolone) dan 3 strip obat TBC sebagai ganti gue nggak mau sedot paru-paru, obat terkutuk tersebut bernama RIMSTAR. Obat super gede yang dosisnya tiga butir sekali minum ini bikin urine jadi merah. Setelah minum sekali, gue sama sekali nggak merasakan perubahan, malah paru-paru gue mendadak suka sesek dan berasa nggak nyaman. Akhirnya obat tersebut kita karetin dan ditelantarkan di pojok lemari.

Jeng-jeng, datanglah hari perhitungan dosa dan pahala. Semua bill harian dan biaya kamar ditotal. Sebenernya mau gue upload fotonya tapi tulisannya nggak bisa keliatan, jadi gue diktein aja ya:

01. Obat (11) : Rp. 1.739.000
      Instalasi Farmasi
02. Alat Kesehatan (6) : Rp. 411.900
03. Jasa Tindakan Perawat : Rp. 20.000
04. Jasa Tindakan Dokter UGD (Yang masang infus): Rp. 45.000
      Poliumum
05. Dokter Umum (Dr. Metha) : Rp. 75.000
      Konsultasi Dokter Spesialis
06. Spesialis Paru (Dr. Pudjo Astowo-Which is kita nggak pernah minta): Rp. 175.000
07. Jasa Service (???): Rp. 175.000
08. Jasa Tindakan Perawat : Rp.40.000
09. Kamar Kelas 2 (5) : Rp. 1.750.000
      Rawat Inap
10. Visit Dr. Subspesialis (Alvina.SP.PD): Rp. 100.000
11. Visit Profesor (4) (Prof. Heru Sundaru): Rp. 520.000
12. Rongent : Rp. 125.000
13. Laboratorium: Rp.380.500
14. Biaya Administrasi: Rp.277.800

TOTAL: Rp. 5.834.500

Testimoni tentang RS Agung:

- Berhubung RS ini adalah langganan gue setiap kena tifus, rawat inap kali ini sungguh bikin image RS ini di mata gue sekarang jatoh. Salah diagnosa, kebingungan mau ngasih obat apa, udah cukup melunturkan kepercayaan gue sama RS ini.

- Susternya masih ada aja yang galak dan jutek. Satu Bruder yang baik banget selama gue dirawat bernama M.Darwis. Sabar dan edukatif banget kalo ditanya pasien.

- Lima hari dirawat hampir 6 juta? Hell no.
- Peralatan dan fasilitas rawat inap yang ada di RS ini kalo dibandingkan sama RS Ramsay Premiere Jatinegara misalnya, kayaknya masih agak jauh. IMHO ya.

- Senengnya, setiap berobat kesini dan masuk ke ruang periksa, semua dokter umumnya baik. Pasien nggak merasa tergesa-gesa buat periksa karena si dokter mau ngeladenin semua pertanyaan dari pasien. Ini penting. Dan obat-obatannya sebagian besar ampuh nggak bikin balik periksa lagi.
                                                                                                     
Selesai bayar utang, ya memang gue masih sempoyongan tapi overall udah oke kok. Karena bohong, gue masih membawa siklus demam yang belum sembuh meski selesai di rawat inap. Typhoid Journey gue belum berhenti sampai sini.

Minggu Ketiga

Sesampai dikosan, pacar pun masih menemani meski nggak bisa nginep. Siklus demam gue masih berlanjut sampai tanggal 17 Januari 2015. Naik turun, tapi udah nggak menginjak angka 39 apalagi 40 derajat. Alhamdulillah. Sekarang demamnya di kisaran angka 38 derajat aja kakak. 

Recovery selama di kosan ini juga jadi concern yang membingungkan. Karena kita nggak dikasih obat yang berguna kayak Sanmol (Meski masih ada dan ternyata dijual bebas di apotik), Antibiotik yang jelas, dll. Malah dikasih obat TBC dan LAMESON tadi, gue dan pacar sepakat buat nyari obat alternatif yakni obat-obatan Cina. 

Obat-obatan gue selama recovery adalah: FU FANG EJIAO JIANG, YUNNAN PAIYAO, PRITAVIT, Sanmol Tablet, Chloramfenicol, dan dibantu Apel, Pisang, Pocari Sweat, serta biskuit oreo dan teh manis.


FU FANG EJIAO JIANG ini harganya Rp. 185.000, berisi 12 botol/serum satu package-nya. Berfungsi buat menambah darah dan energi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan meningkatkan jumlah trombosit. Rasanya mirip-mirip kecap manis dikasih air gitu.


YUNNAN PAIYAO harganya Rp. 75.000 satu strip isi 16 tablet. Katanya berkhasiat sekali buat mengobati apapun penyakit dalam yang sedang terjadi di tubuh. Gue yakin 90% nya sugesti, tapi akhirnya tetep habis dua strip.

Chloramfenicol adalah antibiotik buat tifus yang gue browsing secara asal di Google terus gue suruh pacar beli di Apotik. Sampe sekarang apakah obat itu bekerja baik atau nggak masih menjadi misteri. Tapi nyatanya makin hari gue get more better.

Semasa recovery, gue jarang banget makan dengan porsi banyak. Malah makan yang aneh-aneh kayak Pizza dan Mie Yamien. Ada quote yang mengatakan "Dimana makanan tersebut enak buatmu, pastilah akan membahagiakan dan menyehatkan".  Oke itu gue aja yang cari pembenaran.

Pagi, gue cuma ngeteh, makan pisang dua buah, oreo tiga biji. Makan siang baru sekitar jam tiga sore, menunya nasi-sop, nasi-capcay, nasi-fuyunghay, pokoknya menu-menu yang ada di Bakmi Golek deh. Soalnya delivery yang murah dan deket kosan cuma itu sih. Menu yang dibeli sore tadi biasanya gue rangkap makan lagi malemnya. Begitu terus sampe hari ini. Hari ini iseng ke Yoshinoya makan beef bowl malah hampir abis :')

Alhamdulillah sekarang udah segeran dan bisa keluar dikit-dikit walaupun dengkul gemeter. Lihat perbedaannya.



In facts, ada dua jenis penderita Typhoid, disebut Carrier dan si yang tertular. Sialnya, gue baru tahu kalo gue ternyata Carrier, alias walaupun sembuh dari typhoid pun, bakteri tersebut bukannya keluar dari tubuh atau mati, melainkan tetep di usus tapi nggak aktif. Menunggu kelengahan gue dalam menjaga badan dan kesehatan. Keselnya lagi, bakteri ini bisa ngendon non-aktif di usus kita selama setahun. Berbeda dengan "Yang tertular", biasanya setelah menderita tifus sekali, ya bakterinya memang mati karena bukan dia yang generate.

Tips dan Fakta Buat Kamu Yang Terkena Typhoid

1.  Pelajari Penyakitmu

Pelajari kasusmu, pelajari bakterimu. Menghafal setiap obat yang dikasih dokter setiap kamu sakit itu penting lho, apalagi kasus Typhoid ini. Caranya gampang, tiap dapet obat, kamu buka Google. Liat kandungannya, liat efek sampingnya, liat indikasinya. 

Inget, bakteri Typhoid adalah bakteri yang bisa meningkatkan resistensinya setiap kamu terjangkit. Jadi misal sekarang kamu dikasih antibiotik 1, ketika kamu terjangkit lagi belum tentu antibiotik 1 tersebut masih mempan. Jadi kamu musti hafal apa nama obatnya.

Satu hal lagi. Resistensi bakteri terhadap antibiotik buat tiap orang pasti beda-beda. Misal kamu mempan sama antibiotik 1, belum tentu mempan buat gue. Begitu juga sebaliknya. 

Dengan kamu dikit-dikit tahu teori kedokteran yang bahannya bisa kamu riset via banyak artikel di google, kamu nggak akan mudah dibodohi dan akan ngeh ketika diagnosa yang diberikan ngawur, karena dokter juga manusia, bisa salah. 

Dengan kamu tahu berbagai kandungan obat, indikasi, dan efek sampingnya, kamu juga akan belajar gimana ritme peyakit dan pergolakan penyakit yang sedang terjadi dalam tubuh kamu, kamu juga akan hafal mana obat yang baik dan cocok untuk kamu, mana yang nggak.

Trust me, It's useful.

2. Harus Mau Makan

Ini krusial sekali. Gejolak yang kamu rasain di perut kanan bagian bawah adalah hasil dari perilaku Salmonella yang lagi nyedot-nyedot sari dalam usus kamu, makanya nyeri. Semua makanan yang kamu makan berguna buat usus untuk mempertebal dinding usus yang lagi disedot Salmonella.

Lagian, semua penyakit juga mengharuskan pasiennya buat tetep makan dong ah. Gue nggak bilang makan banyak atau harus habis, tapi tingkatkan intensitasnya. Makan sedikit nggak papa, asal sering.

Makanan adalah 90% faktor yang mempercepat kesembuhan kamu. Semakin sering kamu makan, semakin cepet sembuh kamu.

Makanannya juga sebenernya gak musti bubur terus. Kalo ulu hati kamu sanggup, ya makan nasi aja. Atau lauk-pauk yang biasanya kamu makan juga gapapa (Kayak ayam goreng yang notabene keras, kalo kamu sanggup ya makan aja). Pantangannya: Nggak boleh asem, pedes, dan bumbu-bumbu yang bersifat tajam. Saran gue sih, makanlah bubur yang enak, atau nasi pake lauk yang kamu suka asal tetep pada pantangan, diselingi buah deh. Apalagi buah apel dan semangka. Wuih, itu seger banget buat orang yang kena tifus. Pasti kamu cepet sembuh.

3. Ketika demam harus............

Banyak yang bilang "Orang kena tipes nggak boleh diselimutin atau dikungkup". Kalo gue sih, selama emang dingin dan memperburuk demam kamu, ya selimutan aja. Pertebal dengan dua jaket, kaos kaki, sarung tangan kalo emang belum cukup. Kalo keringetan, ya buka aja semua, diangin-anginin dikit, rebahan lagi deh.

Di kasus gue, kalo gue demam dengan selimut terbuka, rasa menggigil yang gue rasain terasa semakin memburuk. Apalagi di ruangan rawat inap AC nya kan lumayan dingin, bisa-bisa demam nggak turun-turun.

4. Tambah Kekebalan Tubuh Kamu

Ini tips pribadi. Makanlah makanan yang menguatkan kekebalan tubuh kamu walaupun nggak ada hubungannya sama Typhoid. Karena apapun penyakitnya, antibodi akan tetep kamu butuhkan buat menangkal bakteri dan virus yang siapa tahu nyusul sebelum kamu sembuh dari tifus. 

Contoh: Jus jambu, jus wortel, pisang, vitamin dari obat-obatan, atau obat-obatan cina tadi juga bisa.

5. Cobalah bergerak

Kalau kamu udah mulai enakan, atau keadaan kamu secara keseluruhan udah mendekati normal, coba deh gerak-gerak dikit. Apalagi kalo kamu udah nggak demam, ayo bangun dari tempat tidur. Terus-terusan rebahan bisa bikin leher pegel, sendi-sendi kamu sakit, dan keseimbangan otak belakang meluntur. Latihan dikit-dikit. Jalan-jalan kecil juga oke.

6. Preventif Lebih Baik

Tips terakhir adalah, jangan lupakan sejarah. Satu-satunya cara terhindar dari Typhoid adalah menjaga pola makan, dan menjaga jenis makanan serta dari mana sumber makanan tersebut berasal. Makan yang jelas-jelas aja. Mahal dikit gapapa asal bersih. Dan satu lagi, kamu nggak boleh terlalu capek. Ini adalah kutukan penderita Typhoid. 

Jangan maksain diri kalo nggak mau bakteri tersebut aktif lagi atau ketularan lagi :)


"[Pret's-pektif]: Sehat memang mahal, tapi menjaga kesehatan itu gratis"

6 comments:

  1. Dijaga kesehatannya ya sayang. Jangan sampe sakit lagi, kamu :*

    ReplyDelete
  2. Wah mas kebetulan saya juga sejak 11 maret kmrn typhus, sempet membaik, cuma sayanya pecicilan pas bdn berasa enakan. Keluyuran kmn2, jajan, ehh terus kena lagi sampe skrng. Gak enak banget typhus, sedih merana harus rebahan terus. Itu obat2 cina manjur gak bikin sembuh?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang penting itu beli verminnya, biar bakteri salmonellanya berkurang dulu. Kalo obat cina itu lebih buat jaga stamina sih.

      Tapi dengan sugesti "pingin sembuh" yang tepat, obat cina bisa jadi obat termanjur daripada punya dokter. Semoga cepet sembuh ya :)

      Delete
  3. Saya sudah 2x ke dokter dengan sakit yang sama. Typoid. Ini lagi dalam pengobatan. Terimakasih mas, share kisahnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dapet insight yang bermanfaat ya :)

      Delete