Jadi Robot Di Jakarta

7 comments
Source
9 Februari 2015, beberapa daerah di Jakarta khususnya Jakut, dilanda genangan yang lumayan parah. Tapi untung, kosan gue di Jaktim nggak ikut kena kayak tahun lalu :))

Makasih banget Pak Jokowi-Ahok. 

Tapi teuteup aja ada orang-orang ciprik yang tekun menyalahkan pejabat khususnya Pemda setiap kali rumahnya kebanjiran. Yang lucu lagi, yang komplain ini biasanya orang-orang kaya yang tinggal deket bantaran kali dan sungai.Tabungan rokoknya kebawa banjir, katanya. Ehm.

Anyway..

Karena hujan yang awet semenjak jam sepuluh malem kemarin, udah pasti gak bisa kemana-mana dong, selain sekrol-sekrol timeline Twitter.

Karena sebagian besar yang gue follow adalah pekerja sosmed, blogger, dan penulis, satu highlight yang dibahas adalah, soal mereka-mereka yang bersyukur bisa kerja di rumah. Bebas dari basah, kejebak banjir, dan telat masuk kantor. Ini menarik buat gue.


Karena jujur, gue juga sependapat sama mereka, si pekerja sosmed. Karena gue juga kan' pekerja sosmed :)) HHHHHHH

Abis gimana ya, ngeliat orang-orang yang kejebak banjir ini nggak jauh beda sama yang tiap hari ngeluh kejebak macet terus. Mereka menjalani rutinitas seperti layaknya robot.

Mau macet, mau banjir, mau ngelindes trotoar pedestrian, HAJAR TERUS.

Kejebak banjir, bukannya merenung, kapok dan sadar, malah jadiin banjir sebagai topik obrolan sambil nunggu surut di pinggir trotoar. Ketika masa banjir lewat, buang sampah sembarangan juga tetep iya. Persis kayak robot.

Gue, yang bisa nyemplung nggak sengaja di dunia sosmed, nggak salah dong kalo bersyukur bahwa gue ternyata nggak telat nyari alternatif pekerjaan. Nggak musti macet-macetan, nggak kejebak banjir, dan segala macem gift yang masih banyak buat di alhamdulillah-in.

Abis kalo diliat-liat, seiring jaman bergolak, pekerja full-time tiap tahun kayaknya makin berkurang. Mungkin mereka lelah-bosen harus jadi budak korporat yang musti kerja nine-to-five selama hampir seminggu, persis kayak robot.



Im just wondering, mereka-mereka (pekerja/karyawan umur 20-30 tahunan) yang kejebak banjir saat ini, sebenernya orang yang kayak gimana? Apa mereka open-minded? Pernah nggak sih mereka berniat nyoba sesuatu yang baru?

Kalo emang iya, kenapa sih nggak cari alternatif pekerjaan lain daripada melacurkan diri buat pasrah kejebak banjir tiap tahun? I'm thinking about some solutions.

Contoh, daripada ngamuk sama pemerintah karena banjir terus dan tanggul kanal nggak jadi-jadi, ngapain beli mobil empat biji? Investasikan uangmu buat beli speedboat atau kapal karet, atau helikopter sekalian, lebih masuk akal.

Misal kalo soal occupation, belajar hal lain yang diluar kemampuan dasar, siapa tahu bisa pindah kantor yang nggak kena banjir?

Atau, seperti gue yang gak sengaja nyemplung sosmed, pingin ngerasain enak nggak enaknya jadi pekerja sosmed, bisa juga nyoba belajar. Lowongan pekerja sosmed hampir "berserakan" dimana-mana.

ATAU JUGA, para bos-bos juga harus belajar nyoba memperbolehkan karyawannya kerja di rumah jika emang memungkinkan dan sesuai dengan jenis kerjaannya.

Poinnya adalah, kalo bisa nyoba hal baru sebentar aja, maka nerobos hujan, maksa nerjang genangan banjir, dan sebagainya, kayaknya sangat-sangat nggak worth it kalo dibandingin solusi tadi. I mean, solusi tadi kan sifatnya long-terms. Kerja keras tapi membayar resiko sebesar mengorbankan kesehatan itu bukannya serem ya? 

Source
Tapi ya memang kembali ke orangnya sih. Gue adalah tipe orang yang nggak suka membatasi diri dengan apa yang belum pernah gue coba. Kalo lo yakin lo mampu, ya coba aja. Kan cuma nyoba.

Kalo patokannya adalah soal hal dasar yang kita pelajari bertahun-tahun, wah ya ribet. Layaknya entertainer, mereka dituntut harus ngikutin perkembangan pasar. Sama aja, kita dituntut untuk berimprovisasi di tengah perkembangan zaman, kecuali kalo kamu emang betah jadi robot.

Terus tiba-tiba ada choir dadakan: "Ya itu kan hidup elo, lo pikir ngubah nasib itu gampang???"

Yeah, skeptic people will always born.
  
Makanya itu, belajarlah buat sedikit demi sedikit jadi open-minded, proses pembelajaran tersebut adalah untuk membuktikan seberapa besar niat kamu. Kalo bisa dapet kerjaan yang nggak nyusahin hidup, kenapa nggak? Kalo bisa jadi manusia, kenapa musti pasrah jadi robot?

*minggat*

[Pret's-pektif]: "Terkadang, orang itu bukannya nggak bisa milih karena nggak ada pilihan, tapi karena nggak bisa memutuskan"

7 comments:

  1. iya, sih. bisa bekerja di rumah itu suatu keistimewaan tersendiri. tidak diatur jadwal kantor. namun sesekali juga harus mengadakan proyek bersama orang lain, tetangga misalnya. karena keberhasilan bersama juga memberikan keistimewaan tersendiri. seenggaknya keistimewaan sebagai manusia yang saling berinteraksi langsung secara aktif.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kerja di rumah juga nggak menutup kemungkinan untuk tetap berinteraksi kan?

      Tadi kakak bilang nggak diatur jadwal kantor, berarti kan juga membuat ketersediaan waktu lebih fleksibel jika bisa kerja di rumah. Dan quality time bersama keluarga juga bisa lebih ter-maintain :)

      Delete
  2. ga semua orang bisa berinisiatif sendiri. Ada orang yang butuh disuruh2. Kalau ga disuruh2, dia bingung apa yg mau dikerjakan. Ga banyak orang yg punya skill self-regulated, itu sebabnya mereka lebih suka jadi "robot":)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku setuju mbak. Karena dari situ jadi penasaran, sebenernya berapa banyak orang yg memilih untuk berusaha menikmati hidup, dan berapa banyak yang memilih untuk ngikutin pola semata agar bisa bertahan.

      Delete
  3. Kalo kerja jadi anak socmed, pacarannya juga bisa tiap hari kak. Iya nggak? ;;)

    ReplyDelete