Wedangan, Mendidik Jujur Lewat Makanan

16 comments

Ngomongin Solo dan Jogja, pasti nggak bisa lepas sama kata "Wedangan". Wedangan adalah salah satu spot kultur populer yang selalu mengundang rasa penasaran si perut lapar bin keroncongan.

Buat beberapa orang, mungkin terlihat biasa aja sih. Tapi buat mereka yang mendambakan ketenangan, kangen bisa makan di pinggir jalan dengan nyaman ditemani sejuk sepoi-sepoi dan makanan murah meriah mengenyangkan, wedangan bisa jadi sangat spesial.

Ceritanya...

Arti wedangan? Hmm, wedangan ini sebenernya bahasa gaul, yang berarti nongkrong sambil minum/cemil-cemil.

Sebelum bahasa gaul tersebut marak, wedangan biasa dikenal dengan sebutan "Hik" atau angkring (dalam bahasa jawa berarti duduk santai). Yang lahirnya jaman-jaman dulu pasti hafal istilah ini :))

Sejarahnya, Hik di era dulu tuh merakyat banget. Warung sederhana khas pinggir jalanan ditemani lampu remang-remang.

Selain dijadikan tempat nongkrong ngopi-ngopi, Hik juga dipakai sebagai tempat singgah sejenak melepas rasa capek sehabis perjalanan. Di Jakarta, mungkin Hik kalah tenar dibanding musholla kalo soal tempat singgah.

Source
Seiring berjalannya waktu, komposisi konsep Hik berkembang menjadi "sajian istimewa a la kampung", istilahnya makanan dan minuman yang dijual lebih bervariasi. Plus, lampunya mulai terang. ((MULAI TERANG))

Di masa kini, Hik buanyak banget variasinya. Ada yang berkembang jadi angkringan gede, ada juga yang jadi modern selayaknya cafe. Yah, namanya juga distorsi zaman. Beberapa orang sih seneng-seneng aja, tapi banyak juga yang masih suka a la tradisional. Tapi istilah nongkrong-modernnya tetep nggak berubah, yakni wedangan :)

Hik/wedangan, menurut gue bisa dibedakan menjadi dua macam:

1. Wedangan Tradisional.

Warung khas tradisional, pake penerangan yang remang-remang (Hik malem). Di sini, semua orang biasanya humble. Topik-topik obrolan ringan a la pinggir jalan mempererat rejeki si penjual dan kepuasan pembeli.
Source
Wedangan tradisional biasanya pasca-bayar. Ambil makanan semaumu, bayarnya belakangan. Apakah si penjual bakalan inget apa-apa aja yang kamu ambil? Tentu nggak, itulah hebatnya pengusaha Hik. Makan di sini mendidik kamu jadi orang jujur.

Funfacts: Wedangan tradisional membawa konsep kesederhanaan nan merakyat. Saking beragamnya pembeli, yang mampir ke sini seakan kena magic dimana semua kayak saling kenal satu sama lain. Ngeblendnya hubungan antara penjual dan pembeli, membuat kita merasa kayak bertamu ke saudara sendiri.

2. Wedangan Modern

Makanan yang ada di sini secara garis besar hampir sama, paling jumlahnya aja beda karena scopenya kelas cafe. Harganya sih relatif ya, tapi yang jelas nggak semurah Hik tradisional karena beberapa Hik modern perlu bayar listrik dan sewa tempat.

Cafedangan
Di sini mulai ada menu-menu modern kayak smoothies, kopi tubruk, pisang/serabi aneka rasa, dan variasi lainnya. Dan ada wifi serta colokan.

Funfacts: Wedangan versi modern dianggap membantu para wisatawan dan pengunjung luar kota untuk lebih mengenal kultur ini. Karena biasanya mereka enggan makan di Hik tradisional dengan alasan nggak terjaminnya kebersihan.

Menu Andalan

FYI aja, makanan yang disediakan selalu merangsang nafsu makan. Tiap kali kamu ke spot wedangan dan nggak laper, begitu duduk kamu pasti mau comot semua. Ini pasti konspirasi. Pinter banget pedagangnya menata jualannya sedemikian cantik dan merangsang. Bentuknya pun besar-besar. Ini masih ngomongin makanan ya.

Source
Ada segala macem gorengan seperti pisang goreng, pisang owol, pisang karamel, tempe goreng, bakwan, martabak telor, baceman, sate telur puyuh, sate ayam, sate keong, sate kerang, kikil, aneka kerupuk, kopi susu, kopi JOS (kopi dikasih bara api), donat-donatan, pokoknya yang ada di sorga ada semua di sini, kecuali istri ya.
Tapi yang jadi gacoan, selamanya nggak akan berubah: Nasi kucing.

Nasi kucing adalah nasi berbahan dasar kepala kucing. Nggak deng. Kenapa dinamain nasi kucing, adalah karena porsinya yang sedikit, seolah mau ngasih makan buat kucing. Tapi sekarang udah lumayan banyak kok, mungkin karena kucing pada protes.

Nasi sambel bandeng
Harga nasi kucing biasanya dibandrol 1000-2000 perak. Lauknya pun cuma sekitar 500-1000 perak. Wuih, yang ngekos di Jawa Tengah pasti bahagia banget berkat eksisnya angkringan ini. Kapan lagi bisa makan nggak nyampe cebanan sambil tebar pesona depan cewek-cewek Jawa?

Komposisi nasi kucing sendiri macem-macem. Ada nasi oseng, nasi sambel teri, nasi goreng, nasi sambel bandeng, beserta medleynya: nasi-oseng-bandeng-goreng-sambel-ijo. Nah, temen makannya pake gorengan tadi tuh. Aiiiisyedap.

Spoiler: Tahu nggak sih, wedangan malem-malem, pasti suka ditanyain "dibakar apa nggak?". Iya bener, lauk-pauknya emang udah digoreng dan siap makan. Terus kenapa dibakar? Biar anget lagi :))


 
[Pret's-pektif]: "Yang bikin salut, pengusaha wedangan (khususnya tradisional) berani ambil resiko. Kejujuran pembeli jadi poin utama di sini.

Pernah liat warung angkringan di Solo pas jam-jamnya rame? Sangat nggak mungkin si penjual mencatat setiap pesanan, apalagi suruh hafalin si pembeli ngambil makanan apa aja. Orang Solo selalu yakin bahwa masyarakatnya masih "pengerten", alias pengertian."

"Makan aja nggak jujur, mau jadi apa?"



16 comments:

  1. aku suka makan di nasi kucing sale menunya banyak, paling suka nasi goreng sama aneka gorengannya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi kalo beli yang pagi, nasi gorengnya masih anget, gorengannya juga nggak kalah anget :')

      Delete
  2. aku suka makan dg cara tradisional, walau kadang ribet krn terlalu armai tapi bisa lihat orang2 dg banyak karakter. Kadang nemu orang yg lucu,imut, sampai neybelin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memang harus stok langganan di berbagai tempat biar selalu nyaman ya :)

      Delete
  3. jadi kangen hek depan smaga mas ._.

    ReplyDelete
  4. Nekat ya bikin warung kaya gitu. Kalau pada licik kan malah jari rugi ya hhe

    Wedang... Gue tahunya wedang jahe hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini bukan nekat lho kak, melainkan "budaya". Karena mayoritas orang sana otak nipunya nggak sebiadab orang kota :)

      Delete
  5. sjk nikah ama org solo, dan mudik ke solo, aku jd ketagihan ama HIK :D... udh bbrp tuh aku tulis reviewnya komplit... Mulai dr yg modern, krn Tiga Tjeret, Omah Lawas, ampe yg kaki lima...dan dari smuanyaaaaa, ttp aja fav ku yg kaki lima ;).. Nasi lebih pulen, smbel lebih pedes ^o^..lauknya toh sama ajaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kota Solo kayaknya jadi provider kepuasan batiniah nomer wahid ya, segala ada :D

      Delete
  6. Hahah.. Iyaaaa.. Rasanya pengen diambil semua.. Gitu uda makan setengah, eh malah ngerasa kenyang.. T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuncinya ada di timing kak. Misal, luangin waktu angkringan sekitar dua jam, begitu sampai, langsung makan besar, begitu lewat sejam, baru deh cemal-cemil, pasti cukup :D

      Delete
  7. Punya usaha nasi goreng? Ingin usaha kulinermu cepat dikenal? Ayo coba gunakan Greenpack. Selengkapnya klik di sini http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete